Ada baju adat khas Jawa yakni kebaya, baju khas Minang, dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sampai pakaian adat dari Papua. Semuanya menyatu dalam satu gereja saat ibadah Misa Natal, Minggu (24/12) petang.
Pemakaian baju adat Nusantara ini bertujuan untuk merefleksikan kekayaan budaya di Indonesia, sekaligus untuk mempersatukan berbagai suku di tengah maraknya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dan ujaran kebencian di media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, di Gereja Katolik, memang terkenal dengan slogan ‘Katolik Seratus Persen Indonesia’ sehingga nuansa yang diterapkan dalam natal kali ini adalah nuansa Nusantara.
Jemaat Gereja Katolik Santo Yosep di Kota Mojokerto mengenakan pakaian adat Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia saat Misa Natal, Minggu (24/12). (CNN Indonesia/Kurniawan Dian) |
Dengan tema itu, John merasa leluasa menunjukkan identitas aslinya dengan berpakaian adat NTT.
“Saya sangat menaruh apresiasi luar biasa tentang tema natal tahun ini. Kenapa? Karena saya bisa menunjukkan identitas asli saya, bahwa saya memang bagian suku yang ada di Indonesia,” ucapnya.
John juga berharap dengan tema yang diusung gereja pada tahun ini, kedamaian dan kebinekaan yang sudah terajut selama ini tetap terjalin sampai kapan pun meski serangan isu SARA sangat gencar terjadi, terutama di media sosial.
“Ini kekayaan kita, kekayaan Indonesia. Dengan kebinekaan yang harmonis, setiap orang bisa menunjukkan identitas masing-masing untuk eksistensinya,” ujar John.
Meski mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian dan Banser NU, hal itu tidak membuat para jemaat khawatir terhadap ancaman teror. (dik/wis)
Jemaat Gereja Katolik Santo Yosep di Kota Mojokerto mengenakan pakaian adat Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia saat Misa Natal, Minggu (24/12). (CNN Indonesia/Kurniawan Dian)