TAJUK RENCANA

Ketika Hening Dibungkam

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 31/12/2017 21:00 WIB
Ketika duduk menghadapi akhir 2017 ini, tentu akan sangat menyenangkan jika kata-kata terakhir yang kita ucapkan di tahun ini adalah janji tentang kebaikan. Ilustrasi cover dan tulisan: CNN Indonesia/Fajrian
Jakarta, CNN Indonesia -- Mari sama-sama akui saja. Tahun 2017 memang sangat panjang, nyaring, dan melelahkan.
Sepanjang tahun sejarah bergerak dengan kecepatan tinggi*. Mulai dari kegaduhan Pilkada DKI Jakarta, penyiraman air keras pada Novel Baswedan, rentetan aksi dan demonstrasi, riuh kepergian Rizieq Shihab ke Arab Saudi, drama pencarian ketua DPR RI Setya Novanto, hingga adu ego antara Donald Trump dan Kim Jong-un – seluruhnya datang dan terlupakan secara instan.

Di era ketika media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, 2017 juga menjadi tahun yang demikian bising. Topik terpopuler ditumbangkan dari puncak hanya dalam hitungan hari, bahkan jam. Status Facebook atau Twitter dengan mudahnya direspons oleh agresi atau kemarahan – tak peduli di sisi mana Anda berpihak. Bahkan satu unggahan sederhana seperti foto tata-rias Raisa di hari pernikahannya pun bisa mengundang perdebatan yang demikian panjang.

Tahun ini juga kita tanpa sadar berlomba melempar batu di dunia maya. Berjaga-jaga memegang telepon genggam dan dengan sigap merekam tindakan mereka-mereka yang kita anggap bersalah, kemudian menyebarkannya. Menghakimi seseorang berdasarkan sekian ratus huruf yang mereka tuliskan. Menebar makian tanpa berpikir ulang. Atau, menyebarkan tautan yang tidak diketahui keabsahannya hanya karena sekilas tampak mewakili identitas kita.

Tak heran jika dalam pemaparan laporan kinerja Kepolisian Negara RI Tahun 2017, Kepala Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa dari 5.063 kasus kejahatan siber sepanjang tahun, yang paling menonjol adalah ujaran kebencian. Disusul berita bohong (hoaks), dan penipuan dalam jaringan.


Tak mencengangkan pula jika sebuah kata asing seperti “persekusi”, mendadak sangat akrab di telinga pada akhir tahun ini.

Ketika Hening Dibungkam
Namun ada masalah tersembunyi dengan segala ingar-bingar itu, yaitu hilangnya kemampuan kita untuk berteman dengan hening. Kebutuhan mendasar untuk berdiam diri dan menarik jarak dari segala sesuatu, berganti dengan jari yang terus menerus dipaksa untuk menarik ke bawah dan memperbarui lini masa.

John Dewey, seorang ahli Psikologi, mengklaim bahwa hanya mengalami banyak hal saja tidak cukup untuk bagi seorang manusia. Satu hal penting yang tak boleh dilupakan adalah kemampuan untuk memaknai pengalaman tersebut.

Di sini lah keheningan yang seharusnya mengambil alih. Dalam ketiadaan suara itu kita bisa mendengarkan diri kita yang sebenarnya, hubungan antarmanusia seperti apa yang kita inginkan, apa yang benar-benar kita nilai berharga, dan apa yang kita yakini dalam hidup.

Secara sederhana, menumpas segala keriuhan itu krusial bagi manusia yang ingin tumbuh.

Dalam beberapa jam ke depan, tahun 2017 yang melelahkan ini nyaris usai. Dan, ketika jarum jam melewati angka 12, seberapa klise dan singkat pun hal tersebut, ada refleksi di sana.

Ketika duduk menghadapi akhir tahun ini, tentu akan sangat menyenangkan jika kata-kata terakhir yang kita ucapkan di tahun ini adalah janji tentang kebaikan. Untuk sesekali merawat keheningan dan lebih mendengar.

Sisanya –soal berbagai hinaan, teriakan, ejekan pada mereka yang berseberangan— adalah khilaf yang akan kita tanggung bersama. Sampai tiba waktunya kita bisa berkomunikasi dan berargumentasi dengan mereka yang berbeda dari kita. Tanpa berteriak. Tanpa memaki.

---

*(Kitab Lupa dan Gelak Tawa, Milan Kundera)

(vws)


ARTIKEL TERKAIT