Unit itu seluas 30 meter persegi, terdiri dari dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Ruang tengah dan dapur dibuat menyatu.
Ibu beranak tujuh itu baru saja pulang dari rumah majikannya yang tak jauh dari sana. Ia bekerja paruh waktu sebagai buruh cuci, sekaligus pedagang jus buah di Rusun Jatinegara Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya akuin tinggal di sini enak emang, tapi tunggakan saya itu, lho,” kata Kokom sambil tertawa.
Mereka adalah warga gusuran Kampung Pulo era mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 2015 silam.
Tiap bulan, tagihan air unit rusunawa milik Kokom bisa mencapai Rp300 ribu atau lebih. Belum lagi dirinya harus membeli token listrik sekitar Rp20 ribu seminggu.
"Kalau (sewa) rumah Rp300 ribu, enggak apa-apa. Tetapi, air jangan," ujarnya.
Masih jelas di ingtannya ketika Gubernur Anies Baswedan datang ke rusunnya pada Januari 2017 lalu, saat kampanye Pilkada DKI. Kokom mengaku pernah menyampaikan keluhannya akan tagihan air yang menyamai biaya sewa rusunnya.
"Dulu Pak Anies bilang mau diringankan biaya rumahnya, tapi dia lagi pertimbangkan karena belum jadi gubernur. Masa air bayar?" kata kokom yang saat Pilkada DKI 2017 lalu mantap memilih Anies-Sandi.
Meski begitu, wanita asli Betawi ini mengaku kehidupannya membaik setelah tinggal di rusun. Sebab ia berkesempatan untuk buka lapak minuman di area rusun secara cuma-cuma.
"Masih mending di sini. Di Pulo mati kutu gara-gara jauh dari mana-mana. Enggak bisa dagang, tapi di sini bisa," katanya.
"Di Pulo enak. Meski sering banjir tapi kita enggak mikirin uang sewa, uang air. Sekarang mah enggak gitu," ujarnya.
Kokom, penghuni rusun Jatinegara Barat merasa tagihan air sebesar Rp1.050 per meter kubik dirasa memberatkan. (CNNIndonesia/Mesha Mediani) |
Tanggapan Pengelola Rusun
Menagih uang sewa para penghuni adalah tugas ekstra berat. Kepala Unit Pengelola Rusun (UPRS) Jatinegara Barat Vita Nurviatin mengatakan, hingga pertengahan Desember 2017, jumlah tunggakan di sana mencapai Rp1,2 miliar dari 393 unit.
"Itu namanya (penghuni) keras kepala, enggak mau dengar dan resisten terhadap kebijakan yang ada," kata Vita kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (31/12).
Menurut Vita, banyak warga yang sesungguhnya mampu membayar sewa. Hanya saja, kesadaran mereka masih sangat rendah dan belum bisa move on atau menerima kebijakan relokasi dari gubernur sebelumnya.
"Ironisnya, mereka itu tunggakan besar, tetapi mereka bisa beli barang-barang yang konsumtif. Contohnya mobil, motor, barang-barang elektronik kayak mesin cuci, televisi, mereka tetap beli," kata Vita.
Vita menambahkan, pihaknya selalu melakukan upaya persuasif agar warga bersedia membayar.
Jika tidak ada respon lagi, dilakukan segel selama 7 hari.
"Segel itu adalah bagaimana caranya dia keluar dengan sukarela. Kalau dia ada konfirmasi, ya kita cabut segelnya," kata Vita.
Jika setelah penyegelan tidak ada konfirmasi lagi, maka UPRS memberikan Surat Peringatan kesatu selama tiga hari untuk mengosongkan. Selanjutnya, SP kedua selama 3 hari. Jika tidak diindahkan lagi, baru pengosongan paksa.
Kendati demikian, peraturan itu tidak bisa secara tegas diterapkan di rusun yang berjarak 50 meter dari Terminal Kampung Melayu tersebut.
"Kalau saya menerapkan tahapan di Pergub itu, 90 persen (penghuni) sudah keluar semua itu," kata Vita.
Vita mengakui penghuni rusun Jatinegara Barat tidak bisa diperlakukan sama dengan penghuni rusun pada umumnya. Sebab, seluruh penghuni Rusun Jatinegara Barat adalah penghuni terprogram hasil relokasi gusuran Kampung Pulo.
"Ini kan warga terprogram, kami enggak bisa mengeluarkan (penghuni) begitu saja, jadi secara persuasif saja," kata Vita.
"Maunya, kita petakan mana yang mampu dan mana yang tidak mampu. Tinggal tunggu kebijakan gubernur" lanjut Vita. (djm)
Kokom, penghuni rusun Jatinegara Barat merasa tagihan air sebesar Rp1.050 per meter kubik dirasa memberatkan. (CNNIndonesia/Mesha Mediani)