Sebelum menutup pidatonya, Megawati mengucapkan terimakasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberi kepercayaan politiknya kepada PDIP.
"Doa dan perjuangan kami selalu, selalu, dan selalu sekali lagi, untuk rakyat, dan bangsa Indonesia," kata Megawati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan kehilangan orientasi, jangan disorientasi, pegang teguh ideologi pancasila 1 juni 1945. Jadikan Pancasila bintang penuntun yang membimbingmu dalam menentukan langkah dan keputusan politik," ujarnya.
"Enyahkanlah pikiran pragmatis, singkirkan mental individualis. Jangan kompromis terhadap hal-hal prinsip yang menyangkut kehidupan dan keselamatan rakyat. Gelorakan jiwa gotong royong, nyalakan suluh perjuangan," kata dia.
Dalam acara ini turut hadir Jokowi, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno dan Boediono, serta beberapa ketua umum partai politik. Jajaran menteri kabinet kerja juga ikut serta dalam acara ini.
Bukan sekali ini saja Mega menangis saat berpidato. Hal itu juga terjadi pada pidato politiknya dalam pembukaan gelaran Kongres IV PDIP, 2015.
Ketika itu, Megawati berpidato dengan berapi-api. Kobaran semangat Mega membuat peserta Kongres mengeluk-elukkan dia.
Mendekati akhir pidato, Megawati tampak menangis haru. Melihat ibunya mengucurkan air mata, Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, ikut menangis.