Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Cecep Hidayat mempertanyakan soal pengakuan La Nyalla tersebut. Sebab, selama ini amat jarang ada seorang kandidat yang mau membuka secara gamblang soal mahar politik.
"Kenapa dibuka, blak-blakan ke publik? Toh masing-masing tahu sama tahu. Amat jarang seorang kandidat mau kasih tahu (mahar). Ada message apa? Dalam rangka apa (La Nyalla) ingin buka ke publik?" kata Cecep kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pesannya bisa, wah Prabowo minta uang. Kan ini bisa menurunkan citra Prabowo. Pengungkapan ke publik ini bisa menurunkan elektabilitas Prabowo," ucapnya.
Dalam pernyataannya kemarin, La Nyalla mengaku dimintai uang Rp40 miliar sebagai biaya saksi. Dalam perhitungannya, biaya saksi dibutuhkan sekitar Rp28 miliar dengan rincian Rp200 ribu untuk dua orang saksi di 68 ribu tempat pemungutan suara.
Namun La Nyalla belum mau menyerahkan uang tersebut sebelum surat rekomendasi dari Gerindra turun. Ia baru mau menyerahkan uang bila sudah resmi diusung. Karena itu ia menilai uang tersebut tak lain adalah mahar untuk membeli rekomendasi Gerindra.
Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono sebelumnya menepis pernyataan La Nyalla. Arif membantah ada permintaan mahar dari Prabowo ke La Nyalla.
"Tidak ada permintaan uang dalam surat rekomendasi terhadap La Nyalla," kata Arief kepada CNN Indonesia.com.
Lagipula, kata Arief, uang Rp40 miliar yang dimaksud itu akan digunakan untuk logistik Pilkada Jatim. "Untuk pembiayaan saksi saja butuh Rp100 miliar. Itu kalaupun lisan dimintai uang, nanti sisanya Gerindra yang menambahkan kekurangannya," kata Arief, Kamis (11/1).
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon juga membantah tudingan La Nyalla. Dia mengaku tidak pernah atau menemukan bukti soal mahar dimaksud.
"Saya kira kalau dari Pak Prabowo tidak ada ya itu, saya tidak pernah dengar dan juga menemukan bukti semacam itu ya," ujar Fadli.
Sebab, menurut Fadli, untuk mengarungi Pilkada Jawa Timur, logistik yang dibutuhkan untuk transportasi serta saksi tidak sedikit. Karena, luas wilayah dan jumlah kabupaten/kota serta penduduknya yang cukup besar.
"Jadi saya kira wajar, bukan untuk kepentingan pribadi atau partai, tapi kepentingan yang bersangkutan," katanya.
Sementara politikus Gerindra Desmond Junaedi Mahesa menilai, tudingan mahar itu untuk kepentingan La Nyalla mencari popularitas.
"(Pernyataan) itu lucu, hanya untuk mencari popularitas saja," kata Desmon. (osc/djm)