Aloysius mengatakan banyak wilayah di Asmat yang tidak punya akses jalan darat. Jarak antara kampung dan puskesmas jauh dan hanya bisa ditempuh lewat transportasi air sementara petugas puskemas pembantu sering tidak ada di tempat.
"Dalam kunjungan saya ke sejumlah kampung, sering dijumpai petugas puskesmas pembantu tidak di tempat," kata Aloysius, Selasa (16/1), seperti dilansir dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal lain yang juga mempengaruhi buruknya layanan kesehatan adalah alat komunikasi yang amat kurang.
Selain itu, Aloysius menyoroti soal asupan pangan bagi warga kampung Suku Asmat.
Menurutnya, masyarakat di sana kurang mendapat makanan yang bergizi dan tidak setiap hari warga mendapat ikan. Sayur-sayuran juga terbatas.
"Di daerah Asmat ini saya kira sekitar 40 persen kondisi kesehatannya masih di bawah standar normal," ujarnya.
Kesehatan warga suku Asmat, terutama para anak-anak, mendapat sorotan dalam beberapa pekan terakhir dipicu mewabahnya penyakit campak dan gizi buruk yang dialami terutama di kalangan anak-anak.
Aloysius mengatakan dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat yang ia peroleh, ada 471 anak dari 23 distrik yang positif terjangkit campak, sedangkan anak yang meninggal karena campak sebanyak 59 orang.
Terkait itu, Aloysius mengatakan program imunisasi belum menjangkau setiap anak di kampung atau distrik-distrik tersebut.
Hal tersebut berbeda dengan masyarakat di distrik-distrik yang terletak dekat dengan pusat kabupaten.
Masyarakat di dekat pusat kabupaten, disebut Aloysius nampak lebih sehat karena lebih mudah dapat uang dari penjualan ikan.
Kesadaran akan hidup sehat juga lebih baik. Sebaliknya, masyarakat yang hidup di kampung-kampung di pedalaman yang minim akses, lebih sulit dalam mengelola hidup sehat.
"Waktu saya pimpin ibadah hari Minggu lalu, di Ewer Dekat Agsts, nampak anak-anak lebih sehat dan ceria," ujar Aloysius. (wis)