"Ya kami setuju, boleh saja, kami kembalikan lagi ke Pak Wiranto soal itu," ujar dia, yang didampingi oleh 16 Ketua DPD Hanura lainnya, di DPP Hanura, Cipayung, Jakarta, Selasa (16/1).
Wiranto pernah menjabat sebagai Ketua Umum Hanura selama 10 tahun, sejak 21 Desember 2006 hingga 21 Desember 2016. Ia kemudian menyerahkan jabatan itu kepada Oesman Sapta Odang alias OSO karena masuk Kabinet Kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kader-kader baru Hanura yang ditarik OSO ke dalam struktur partai dinilainya merupakan kader 'kutu loncat' yang telah merusak harmoni partai dan menjadi biang keladi permasalahan di internal Hanura dengan menyingkirkan kader lama.
"Hari ini beliau ingin menyingkirkan kawan-kawan yang udah berjuang untuk Partai Hanura. Maka kami tidak ikhlas itu terjadi," tambahnya.
Ia juga menilai, kader-kader baru tersebut sudah mengabaikan peran pendiri partai yang sudah lama berkontribusi membangun partai dengan baik.
"Orang-orang di sana (kubu OSO) itu baru pada datang semua. Mereka tak berhak atas partai ini. Kami yang berhak karena sejak awal mendirikan dengan Pak Wiranto, butuh tenaga, biaya, waktu yang kita korbankan," ujar Marlis.
Sejumlah pengurus daerah Partai Hanura pun telah mengajukan mosi tak percaya kepada OSO.