Direktur Eksekutif Yaya Nur Hidayati mengatakan, dengan begitu para pasangan calon bisa menjadikannya sebagai bagian dari janji politik untuk pengelolaan sungai terpanjang di Jabar itu.
"Justru harus jadi komoditas politik lingkungan rakyat. Warga harus melihat sejauh mana komitmen cagub memperbaiki Citarum," kata Yaya pada diskusi yang diinisiasi Walhi terkait keadilan ekologi menjelang tahun politik di Jakarta, Rabu (17/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalah dari hulu ke hilir banyak sekali. Citarum digunakan sebagai pembuangan limbah," tuturnya.
Yaya menyebut, di hulu, banyak peternak yang membuang limbah kotoran hewan ternak langsung ke sungai. Selain itu, banyak petani yang tidak menolak terlebih dahulu limbah pestisida yang digunakan di lahan masing-masing.
Di wilayah hilir, ucapnya, masalah disumbang oleh para korporasi. Korporasi, yang didominasi tekstil, membuang limbah bahan berbahaya dan beracun (3B) langsung ke Citarum.
"Di bawah ada sekitar tiga ribu industri di sana. Sebagian besar tekstil," ungkapnya.
Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto bahkan mengatakan, ada banyak masalah hukum dalam penataan Sungai Citarum, Jawa Barat.
Ia jelas menyebut ada banyak calo, pemalak, broker, hingga praktik pungutan liar yang membuat kondisi sungai terpanjang di Jawa Barat itu sangat buruk.
“Masih banyak masalah hukum yang terjadi dalam penataan sungai Citarum. Ada banyaknya calo-calo, pemalak-pemalak, broker, dan pungutan liar yang membuat kondisi sungai Citarum menjadi sangat buruk,” kata Wiranto. (sur)