Sutiyoso memprediksi akan banyak orang desa pindah ke Jakarta untuk menjadi tukang becak, sehingga akan menciptakan masalah baru di ibu kota. Salah satunya adalah kesemrawutan lalu lintas di ibu kota.
"Itu berdasarkan pengalaman saya yang sempat mengizinkan becak kembali beroperasi," ujar Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia berencana dalam penerapannya nanti, becak hanya beroperasi di kampung-kampung di Jakarta dengan rute tersendiri. Anies beralasan becak masih dibutuhkan oleh warga terutama kaum ibu untuk mengangkut barang belanja dari pasar.
Becak di Jalan Thamrin tahun 1968. (CC BY-SA 3.0) |
Bang Yos menilai sangat sulit untuk membatasi operasi becak hanya di kampung-kampung.
Sebaliknya, dia menyatakan sebagus apapun aturan operasionalnya, para tukang becak tetap akan keluar dari kampung dan berkeliaran di jalan raya.
"Becak sulit diatur. Mereka (tukang becak) punya naluri melanggar aturan," kata Bang Yos.
Potensi bentrok itu dipicu salah satunya oleh persaingan mendapatkan pelanggan.
"Jadi bisa saja terjadi rebutan pelanggan antara tukang becak dengan bajaj, atau pengemudi transportasi online," ujar Bang Yos.
Semua kekhawatiran itu, kata Bang Yos, berdasarkan apa yang dia alami saat memimpin Jakarta selama sepuluh tahun, 1997-2007.
Saat memimpin Jakarta, Sutiyoso memang pernah mengizinkan tukang becak beroperasi di Jakarta setelah oleh Gubernur DKI sebelumnya, Soerjadi Soedirdja, becak dilarang beroperasi.
Bang Yos mengatakan saat itu dirinya terpaksa mengizinkan becak beroperasi karena kondisi ekonomi Indonesia sedang terpuruk akibat krisis moneter.
Pertama, kata Bang Yos, profesi tukang becak tidak manusiawi. Kedua, sudah tidak sesuai lagi digunakan di ibu kota apalagi kota metropolitan, terakhir karena sulit mengatur tukang becak.
"Akhirnya saya sumbat lagi," kata mantan Kepala Badan Intelijen Negara ini.
Becak di Jalan Thamrin tahun 1968. (CC BY-SA 3.0)