"Kalau parpol itu tidak bisa menyesuaikan, tidak bisa menentukan siapa Ketum (Ketua Umum)-nya, siapa Sekjen (Sekretaris Jenderal)-nya, ya mereka akan punya risiko tidak akan bisa lolos di dalam verifikasi faktual," kata eks Komisioner KPU Hadar Navis Gumay, di Jakarta, Sabtu (20/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KPU pun, kata Hadar, bakal berpegang dengan kepengurusan yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. Perubahan kepengurusan dimungkinkan jika ada Surat Keputusan (SK) Menkumham yang baru.
"Semua pihak harus mendukung itu. Pemerintah mendukung biaya, DPR juga. Dan semua harus mengikuti itu. Kalau tidak kualitas pemilu kita menjdi terancam, menurun," ujarnya.
Saat ini, terjadi dualisme kepengurusan di tubuh Partai Hanura. Terdapat dua versi kepengurusan. Pertama, kepengurusan dengan Ketua Umum Oesman Sapta Odang dan Sekjen Harry Lontung Siregar; kedua, kepengurusan dengan Ketua Umum Daryatmo dan Sekjen Sarifuddin Sudding.
Kubu Oesman Sapta alias OSO mengaku telah mendapat SK baru kepengurusan hasil revitalisasi dari Kemenkumham Rabu (17/1). Sedangkan, kubu Daryatmo hasil Munaslub Bambu Apus baru mengajukan kepengurusan baru ke Kemenkumham Jumat (19/1).
Tahap verifikasi parpol dilakukan terhadap semua parpol calon peserta Pemilu 2019. Termasuk, parpol yang pernah jadi peserta Pemilu 2014. Bentuknya, verifikasi dokumen dan verifikasi lapangan.
Verifikasi lapangan dilakukan dengan pengecekan langsung oleh KPU terhadap keberadaan pengurus pusat hingga wilayah parpol terkait. (arh)