Alasannya, menurut Lodewijk, Golkar sejak pertama kali berdiri pada Oktober 1964, identik dengan keterlibatan tentara di dalam kepengurusan.
Pada Oktober 1964, sejumlah tokoh perwira Angkatan Darat menginisiasi berdirinya Sekber Golkar yang menjadi cikal bakal Golkar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tidak ada sesuatu yang aneh,” lanjutnya.
Lodewijk sendiri merupakan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.
Dia mengaku bawahan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat masih bertugas di satuan Kopassus.
“Waktu saya Kopassus (angkatan) ‘81, dua tahun kemudian pada ‘83 saya direkrut sebagai Detasemen Khusus 81. Beliau (Luhut) komandan. Wakilnya Prabowo,” ucapnya.
Ia lantas memilih Golkar karena dinilai memiliki ikatan dengan tentara sejak dulu.
Lodewjik masuk menjadi kader Golkar pada 2016.
“Kebetulan saya masuk ke sini sama dengan pilihan saya karena sejarah berdirinya partai,” ujar dia.
Lodewijk mengakui ada perbedaan mencolok antara dunia politik dan militer. Namun, dia mengaku dapat beradaptasi dengan baik dan cepat karena berlatar belakang militer.
“Ada tugas yang harus diselesaikan. Alhamdulilah selesai,” ucapnya.
Menjadi Sekjen Golkar tidak menghentikan target Lodewijk di politik. Dia mengatakan masih bertekad menjadi calon anggota legislatif dari partai Golkar pada pemilu 2019 mendatang.
“Insya Allah. Akan maju DPR RI,” tutur Lodewijk. (wis/djm)