Keluhan itu Nila sampaikan saat menyinggung pembangunan puskesmas yang belum direncanakan untuk Kabupaten Asmat pada acara diskusi 'Memajukan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Papua' di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (29/1).
Nila mengatakan, pembangunan puskesmas harus dilakukan secara berjenjang. Pihaknya telah mencoba membuat sistem rujukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rujukan tersebut, kata Nila, karena hanya ada satu keberadaan rumah sakit daerah yaitu RSUD Agats.
Dia menyebutkan, dari 177 tenaga kesehatan, yang tiga di antaranya dokter spesialis. Namun dua dokter spesialis justru hilang dan hanya tersisa satu dokter bedah.
"Saya mesti akui bahwa tenaga kesehatan di sana memang ada 177 tenaga kesehatan, tiga spesialis, dua hilang tidak tahu ke mana, bupatinya juga tidak tahu (kedua spesialis) ke mana, tinggal satu dokter bedah dan dokter umum ada tujuh," ujarnya.
Nila mengatakan, hal ini jauh berbeda dengan masa Orde Baru yang dikuatkan dengan instruksi presiden. Dalam Inpres tersebut, Nila menyebut setiap dokter wajib dan harus turun ke daerah ketika ada kejadian luar biasa.
"Ini harus setara, di Jakarta ada fakultas kedokteran. Satu tahun yang lulus ada 10 hingga 12 ribu, ke mana mereka? Dulu ada Inpres zaman Orba, harus. Sekarang semua mengatakan hak asasi, kami kesulitan enggak bisa memaksa dokter ke daerah," katanya.
Namun Nila mengklaim pihaknya telah mengirim 2.800 tim ke Papua. Dia menjelaskan, terkait keberadaan dokter spesialis harus ada permintaan dari Kabupaten.
Pihaknya membutuhkan 90 hari untuk melakukan perbaikan seperti pendampingan tenaga medis terhadap anak-anak.
"Kami lakukan perbaikan selama 90 hari. Ini semua bukan pekerjaan yang mudah," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (pmg/djm)