Artikel yang ditulis jurnalis John Mcbeth itu menyoroti Presiden Joko Widodo dan para pembantunya yang disebut Mcbeth telah menjadi master atau ahli dalam permainan asap dan cermin (smoke and mirrors) yang diadopsi dari trik yang digunakan para pesulap.
Bentuk sederhana dari permainan asap dan cermin ini, seperti ditulis Mcbeth, adalah untuk meyakinkan khalayak bahwa sesuatu benar-benar terjadi atau berhasil dicapai walaupun pada kenyataannya hal itu tidak terjadi atau tercapai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia lantas merujuk pada fakta bahwa di tengah keberhasilan itu, masih ada persoalan seperti valuasi nilai saham PT Freeport Indonesia dan peralihan manajemen yang belum diselesaikan.
Sementara mengenai klaim swasembada pangan seperti daging sapi, beras, jagung, gula, dan kedelai, Mcbeth menyoroti klaim pemerintah berhasil menurunkan proporsi impor daging sapi terhadap total konsumsi turun dari 31 persen menjadi 24 persen, pada 2015.
Pembelaan Goenawan Mohamad
Di akun facebooknya, Goenawan Mohamad salah satu pendiri majalah TEMPO mengatakan, tulisan pendek Mcbeth itu sedikit memicu kehebohan karena digunakan oleh lawan dan musuh politik Jokowi untuk menyerang dan direspons dengan tidak tepat oleh para pendukung Presiden.
Kehebohan itu sebenarnya tak perlu terjadi.
"Pertama, sudah bisa diperhitungkan bahwa lawan Presiden Jokowi akan memanfaatkan tulisan seperti itu, dan sebaliknya para pendukung akan marah. Dalam politik — dan menjelang pemilihan umum — itu hal yang lumrah," tulis Goenawan.
Alasan lain adalah materi yang ditulis Mcbeth bukan informasi baru. Goenawan mengatakan bahwa kasus-kasus yang ditulis Mcbeth sebenarnya tak luput ditulis oleh media-media di Indonesia.
"Siapa saja yang membaca Tempo (saya perkirakan McBeth juga baca Tempo edisi Inggris) dapat menemukannya — dan dapat mengutipnya, dan sembari duduk minum bir di rumah, dapat menyiarkannya lagi..," tutur Goenawan.
Penulis, penyair, dan budayawan Goenawan Mohamad. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Tendensi itu, menurut Goenawan, tak lepas dari pengalaman pengekangan pers yang terjadi hampir setengah abad, sejak era Demokrasi Terpimpin hingga Orde Baru.
Menurut Goenawan, tendensi atau asumsi pembaca Indonesia itu pada dasarnya sudah terbantah seiring dengan sikap pers dalam negeri yang tidak lagi takut diberangus.
"Kini bisa dikatakan dengan yakin, mutu jurnalis asing, juga McBeth, tak harus lebih baik ketimbang jurnalis Indonesia," ujarnya.
Goenawan melanjutkan, artikel Mcbeth di Asia Times, juga tak lebih dari sebuah tafsir. Sebab menurutnya, kerja jurnalisme hanyalah tafsir.
Dalam konteks penafsiran ini, Goenawan menilai Mcbeth memilih sejumlah kasus salah langkah pemerintah sehingga menghasilkan penafsiran yang negatif.
Di sisi lain, Goenawan memaparkan, beberapa hasil survei menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi. Pada saat yang sama, berbagai pihak juga mengingatkan Jokowi agar lebih baik dalam merumuskan kebijakan, lebih terkoordinir dan lebih efektif.
"Pendek kata, kita tak perlu bertepuk tangan untuk tulisan pendek McBeth, dan sebaliknya tak perlu juga mengepalkan tinju," tulis Goenawan. (djm)
Penulis, penyair, dan budayawan Goenawan Mohamad. (CNN Indonesia/Safir Makki)