Dalam pidato itu, kata Ma'ruf, Tito sedang membahas peran ormas Islam dalam membantu Polri menghadapi gerakan radikalisme, khilafah, dan transnasional. NU dan Muhammadiyah dianggap menjadi garda terdepan dalam perlawanan itu.
"Saya kira kalau itu konteksnya, tidak masalah. Tidak ada maksud untuk menafikan peran ormas-ormas lain," kata Ma'ruf pada jumpa pers di Jakarta, Rabu (31/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai semua hanya kesalahpahaman. Ma'ruf berujar, pidato itu dilakukan antara akhir 2016 atau awal 2017 di Pondok Pesantren Tanara, Banten, yang juga diasuh olehnya.
"Mereka akan bisa paham karena bukan itu yang dimaksud Pak Kapolri," tuturnya.
Pernyataan yang disampaikan Tito dalam sebuah pidato itu beredar lewat media sosial dan langsung mendapat protes keras dari Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain.
"Sikap dan pengetahuan Anda (Tito) tentang hal Ini sangat mengecewakan. Ada banyak Ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah yang ikut berjuang mati-matian melawan penjajah di seluruh wilayah Indonesia dari Aceh sampai Halmahera," kata Tengku di akun facebook-nya.
MUI sendiri merespons protes Tengku Zulkarnain tersebut. MUI menegaskan protes Tengku Zulkarnain itu merupakan pernyataan pribadi, bukan atas nama kelembagaan MUI.