Data tersebut didapatkan lewat survei terhadap 1.200 responden pada 7-14 Januari 2018. Jokowi dalam survei tersebut hanya memiliki elektabilitas 48,50 persen meski berstatus petahana. Idealnya, menurut LSI Denny JA, petahana maju dengan elektabilitas lebih dari 50 persen.
"Sebagai petahana, itu suatu angka yang tidak terlalu ideal. Angka pemilih secara umum juga melirik capres lain," ujar Peneliti LSI Adjie Alfaraby pada jumpa pers di Jakarta, Jumat (2/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keempat nama itu dinilai berdasarkan popularitas di masyarakat.
Faktor ketokohan dan Pilpres 2014, kata Adjie, membuat Prabowo masih ada di jajaran teratas penantang Jokowi. Adjie menyampaikan sangat mungkin terjadi laga ulang antara Jokowi dan Prabowo di 2019.
Kedua nama ini muncul setelah Pilkada DKI Jakarta 2017. Efek helatan itu, tutur Adjie, meningkatkan popularitas AHY dan Anies secara pesat.
"Popularitas mereka meroket, dari sebelumnya tidak dikenal publik hingga melampaui popularitas ketua-ketua partai dan tokoh-tokoh yang sudah muncul sebelumnya," katanya.
Gatot sekarang dikenal 56,5 persen masyarakat Indonesia. (wis)