Berdasarkan survei tersebut, AHY dikenal oleh 71,2 persen masyarakat Indonesia. Ia mengungguli nama-nama besar seperti Muhaimin Iskandar, Gatot Nurmantyo, Sri Mulyani, dan Susi Pudjiastuti.
"Mereka dilihat berdasarkan popularitas personal di masyarakat, itu akan menjadi modal mereka dalam kontestasi politik," kata Peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby usai jumpa pers di Jakarta, Jumat (2/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain AHY, dua nama lain berlatar belakang militer yang berpotensi menjadi cawapres adalah mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko.
Gatot dikenal 56,5 persen masyarakat lewat beberapa momentum politik yang membesarkan namanya, salah satunya Aksi 212. Adapun Moeldoko dikenal oleh 18,0 persen masyarakat.
"Tapi masuknya Moeldoko ke kabinet, memberi ruang baginya menjajaki peluang menjadi cawapres," ucap Adjie.
Sementara dari kalangan partai politik, ada nama Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan.
"BG (Budi Gunawan) memang bukan orang partai, tapi ada kedekatan kuat dengan PDIP. Airlangga memiliki track record personal yang baik dan tak ada masalah apapun," tuturnya.
Lalu ada empat nama dari kalangan profesional. Mereka adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Pengusaha Chairul Tanjung, dan Aksa Mahmud.
Sebagai representasi dunia usaha, CT memiliki popularitas 35,2 persen dan Aksa 6,3 persen. Dari kalangan menteri, Sri Mulyani dikenal masyarakat 58,3 persen dan Susi 60,6 persen.
"Susi dianggap masyarakat sebagai menteri yang baik, meski ada beberapa isu, masyarakat tetap puas. Sri Mulyani juga dipersepsikan baik," ujar Adjie.
Gubernur dari keempat daerah itu memiliki basis pemilih yang besar karena penduduk di daerah tersebut juga banyak. Selain itu, sorotan media massa juga membantu meningkatkan popularitas mereka.
"Masih ada potensi muncul nama lain. Tergantung seberapa besar tokoh itu menyosialisasikan dan menempatkan diri sebagai calon yang punya program bagi msasyarakat," kata Adjie. (wis/sur)