"Ini lonewolf terorism yang dimotivasi oleh keinginan individual," ujar pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Zaki Mubarak, saat dihubungi, Senin (12/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, aksi teror Suliyono kembali menyasar rumah ibadat dan pemuka agama. Padahal, kata Zaki, aksi teror terjadi di Indonesia dalam lima tahun terakhir menargetkan aparat kepolisian sebagai korban.
"Ini semua menarik, karena terjadi di tengah frekuensi yang menurun dan langkah penangkapan yang baru dilakukan aparat kepolisian beberapa waktu lalu," ujar Zaki.
Kondisi Gereja Lidwina, Sleman, seusai teror oleh Suliyono, pada Minggu (11/2). (Foto: Dok. Gereja Lidwina) |
Terlepas dari itu, ia mafhum dengan kondisi Yogyakarta yang merupakan basis pengorganisasian sejumlah kelompok radikal. Menurutnya, Kota Gudeg dipilih karena tidak termasuk dalam wilayah yang menjadi fokus aparat keamanan, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
"Yogya basis pengorganisasian, ada beberapa kelompok radikal. Aksinya mereka lakukan di luar Yogya," ungkapnya.
Kelompok yang banyak tumbuh di wilayah ini, kata dia, adalah kelompok salafi jihadis. Menurutnya, kelompok ini memiliki pemikiran yang keras dan kaku, karena menganggap sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad sebagai bidah.
Bagi Zaki, kelompok salafi jihadis juga berbahaya karena bisa menyerang siapa saja yang tidak menganut paham serupa.
Penangkapan pertama dilakukan Densus 88 terhadap Agus Ari, di Sleman, pada 25 Agustus 2015. Kedua, Densus 88 pernah menangkap seorang warga Gunungkidul berinisial RS yang diduga berperan sebagai pemberi dana kepada anggota kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Marawi, Filipina, 7 Juni 2017.
Terpisah, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku masih menelusuri soal kemungkinan pelaku adalah anggota jaringan terorisme tertentu atau lonewolf.
Ia telah memerintahkan Densus 88 dan tim intelijen dari Polri dan berkoordinasi dengan Polda DIY untuk mendalami hal tersebut.
"Persoalan apakah bekerja sendiri atau bagian dari jaringan, ini sedang dikejar tim Mabes Polri dan Polda DIY," ujarnya.
Suliyono juga disebutnya pernah gagal saat berupaya membuat paspor untuk berangkat ke Suriah.
"Ada indikasi kuat yang bersangkutan terkena paham radilkal. Pernah membuat paspor Suriah tapi tidak berhasil," ucap Kapolri.
Suliyono (23), dengan membawa pedang, meneror sekitar 200 jemaat Misa di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, DIY, Minggu (11/2). Dia melukai empat orang, mulai dari jemaat, pastor, hingga aparat kepolisian. (arh/gil)
Kondisi Gereja Lidwina, Sleman, seusai teror oleh Suliyono, pada Minggu (11/2). (Foto: Dok. Gereja Lidwina)