Saat memasuki ruang Kanit IV Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/2) malam, Angrizal berjalan pincang akibat menerima tembakan di kaki dari kepolisian.
Saat itu, ia berkaus hitam dan celana jin pudar dengan sobekan di bagian lututnya. Wajahnya terlihat datar tanpa rasa sedih. Sesekali ia melempar senyum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua bulan terakhir, dia mencari nafkah dengan menjadi sopir taksi daring dengan menggunakan akun kawannya bernama Dimas. Hal itu dilakukan sembari menanti jadwalnya berlayar datang.
"Mungkin karena saya pelaut, saya sedang bermasalah dengan diri saya yang tidak senang saat ini hanya sebagai sopir. Rasa gengsi saya sebagai pelaut, saya bersalah," kata dia.
Para pengemudi taksi daring (online) melakukan aksi unjuk rasa Peraturan Menteri Perhubungan soal taksi daring di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (14/2). (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar) |
"Waktu itu lagi di Kalimalang. Istirahat di pom bensin, terus bunyi [handphone, tanda pesanan mengantar masuk] untuk antar saudara cewek [ABK] ini ke bandara. Itu dalam perjalanan karena pagi, kurang istirahat saya ngantuk juga, dia juga enggak bilang terminal berapa," papar dia.
Saat melaju menuju bandara, Angrizal membawa ABK ke jalan perimeter. Kondisi di jalan itu sepi dan gelap. Saat itulah, ABK mempertanyakan maksud dirinya membawa kendaraan ke jalanan yang sunyi dengan nada tinggi.
"Sampai ke Perimeter, dia bingung, 'Pak, kok ini jauh ya sampai ke Perimeter, Bapak sengaja ya? Mau apain saya? Buru-buru, Pak, pesawatnya nanti ini [telat]'," ucap dia, menirukan perkataan ABK.
Saat bertengkar, Angrizal mengaku muncul niat jahat untuk memperkosa ABK. Ketika itu, ia mengangkat pakaian yang dikenakan ABK dan meraba sebagian area sensitif ABK. Namun, niat itu terhenti ketika ABK mengatakan dirinya tengah mengandung dua bulan.
"Dia minta supaya saya berhenti dan mengatakan sedang hamil, saya langsung berhenti dan meminta dia untuk turun," tuturnya.
Anak kedua dari enam bersaudara itu mengatakan ABK tetap memintanya untuk diantar ke bandara lantaran tidak punya uang. Dia pun memilih untuk mengantar ABK hingga ke lokasi dekat bandara dan memberinya uang Rp100 ribu supaya ABK dapat naik ojek atau menghubungi keluarganya.
Minta maaf
Saat perbincangan dengan pewarta itu, Angrizal mengaku bersalah dan menyebut bahwa perbuatannya kepada ABK tidak baik.
Dia ingin bertemu dengan ABK untuk meminta maaf dan meminta supaya laporannya dicabut agar bisa kembali membantu kedua orang tuanya.
"Saya ingin minta maaf. Saya mengaku bersalah, saya minta maaf sama dia (ABK)," ucapnya.
Jika dimaafkan, dia akan mengganti telepon genggam milik ABK yang dibuangnya ke kali.
Kini, Angrizal masih menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Dia dijerat dengan Pasal 289 KUHP dan atau Pasal 362 KUHP soal pencabulan dan atau pencurian.
Ia ditangkap oleh Polda Metro Jaya di Bekasi, pada Selasa (13/2), ata sdasar laporan dari ABK. Dalam penangkapan itu kepolisian menembak kaki Angrizal karena dianggap mencoba melarikan diri. (arh/arh)
Para pengemudi taksi daring (online) melakukan aksi unjuk rasa Peraturan Menteri Perhubungan soal taksi daring di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (14/2). (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)