Bahan bakar pesawat tidak tersalurkan dengan baik sehingga mesin tidak berfungsi. Dalam kondisi mati mesin di udara, Irwandi berusaha sebisa mungkin menghidupkan kembali pesawatnya. Usahanya itu sia-sia.
Irwandi saat itu sedang dalam perjalanan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Dia lepas landar dari kawasan Calang Aceh Jaya, usai melakukan kunjungan kerja. Mesin pesawat mendadak mati ketika Irwandi berada di kawasan Leupung, Aceh Besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ketika itu pesawat mendadak hidup kembali. Irwandi lantas berusaha menaikkan ketinggian terbang pesawat hingga 2.000 kaki. Dia saat itu berusaha sebisa mungkin mendarat mulus di Bandara Sultan Iskandar Muda.
Tak sampai ketinggian yang diinginkan, mesin pesawat kembali mati.
"Artinya, dengan posisi saat itu (sekitar 2.000 kaki), saya harus mendarat darurat," kata dia.
Pendaratan darurat pun dilakukan, dan tidak berjalan mulus. Pesawat mendarat di atas pasir dengan hentakan dahsyat. Bagian depan pesawat terbentur pasir terbentur pasir dengan posisi agak miring ke kanan sehingga menyebabkan sayap pesawat patah.
"Kenapa saya tidak menggunakan parasut, saya khawatir akan dibawa angin ke arah laut atau bisa tersangkut di atas atap rumah warga yang kemungkinan akan membuat cidera pada saat pesawat terjatuh," kata Irwandi.
Usai mendarat di bibir pantai, pesawat itu dievakuasi Irwandi dengan bantuan warga setempat. Pesawat ultra ringan itu diangkat ramai-ramai oleh warga keluar dari bibir pantai. Irwandi menaksir lama waktu perbaikan bisa mencapai tiga bulan.
Irwandi adalah gubernur Aceh yang dikenal punya hobi menerbangkan pesawat pribadi. Pesawat miliknya dinamai Hanakaru Hokagata yang berarti "Tidak ada lagi perang, di manakah Anda," --sebuah sindiran dari Irwandi untuk para eksponen GAM didikan Libya yang tak mau pulang meski Aceh kini sudah damai.
(gil)