Hal itu disampaikan Wiranto dalam rapat koordinasi nasional Pilkada serentak 2018 yang di selenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri, di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (20/2).
Menurutnya, ancaman pertama adalah politik identitas yang semakin menguat. Wiranto mengatakan bahwa isu ini bisa berdampak pada mencuatnya isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang dikhawatirkan akan memecah belah persatuan dalam masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Black campaign ini bisa membunuh karakter seseorang, butuh pencegahan dan komitmen kuat dari pemerintah dan pihak penyelenggara untuk mencegah hal ini," ungkap Wiranto.
"Kira pemerintah juga sudah komitmen membernatas hoax ini menggunakan teknologi, tapi ini juga butuh kesadaran masyarakat, kita minta masyarakat untuk aktif melaporkan kabar hoax itu," kata dia.
Ancaman terakhir adalah ancaman politik uang (money politics). Wiranto mengatakan politik uang dipastikan mencederai prinsip demokrasi yang berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat antarkandidat.
"Money politics ini berbahaya bagi iklim demokrasi yang sudah dianut Indonesia pasca reformasi, sanksi bagi kandidat yang melakukan praktik ini harus ditindak tegas," kata Wiranto.