Ia tidak takut kehilangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika harus menutup tempat 'dugem' itu apabila terbukti menjadi surga narkoba.
"Bagi kita sama sekali enggak ada hambatan. Jangan pernah merasa bahwa penutupan itu menurunkan pendapatan, tidak. Kenapa? karena kita punya sumber lain, jadi kami tidak khawatir soal itu," ujarnya, di Jakarta, Jumat (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data itu didapat dari hasil pemantauan dan investigasi BNN
"Begitu ada pelanggaran atas peraturan daerah, kita akan langsung beri sanksi. Bila sanksinya adalah penutupan kita langsung laksanakan," ujar dia.
Kepala BNN Budi Waseso, di Jakarta, 19 Januari. Ia menyebut ada 36 tempat hiburan di Jakarta yang menjadi sarang narkoba. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Anies berencana menemui Buwas untuk membahas temuan BNN tersebut. Dia juga akan mencocokkan data yang dimiliki Pemprov DKI dengan BNN.
"Kita siap untuk bertindak tegas, kita perlu bertemu untuk menyocokkan. Kita tahu bukti yang selama ini digunakan sumbernya banyak, bukan hanya dari internal, apalagi dari BNN, kita siap berantas total habis," ujar dia.
Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Pemberantasan BNN Provinsi DKI Maria Sorlury mengaku masih berkoordinasi dan menunggu arahan dari BNN Pusat terkait langkah selanjutnya dalam menyelidiki 36 tempat hiburan tersebut.
Namun, pihaknya akan berhati-hati dalam menyelidiki muasal narkoba. Sebab, berdasarkan pengakuan manajemen tempat hiburan malam kepada pihaknya, obat-obatan terlarang yang beredar didapatkan pengunjung dari luar.
"Kemudian pengunjung happy-happy di dalam, memakainya ya di luar," kata dia.
"Siapa yang memberikan narkoba wajib kami kejar. Kalau dia [pengguna] pakai dari luar, ngapain kita tutup usaha orang?" tandas dia. (arh/wis)
Kepala BNN Budi Waseso, di Jakarta, 19 Januari. Ia menyebut ada 36 tempat hiburan di Jakarta yang menjadi sarang narkoba. (