Dari data yang dimiliki Polda Jatim, kasus ini terjadi di Kabupaten Situbondo, yang dilakukan oleh oknum guru berinisial JM mencabuli sembilan siswa Kelas I dan II sebuah sekolah dasar di daerah setempat. Sementara di Kabupaten Jombang, oknum guru berinisial EA di SMP Negeri 6 diduga mencabuli 27 siswinya.
Sedangkan yang terakhir di Kota Surabaya, oknum guru di sebuah SDIT berinisial MSH disangka mencabuli sedikitnya 65 siswanya sendiri. Di sekolah itu, MHS jadi wali kelas. Di luar lingkungan sekolah, seorang kakek berinisial ABD di Rungkut, Surabaya, mencabuli lima bocah tetangganya sendiri. Empat kasus itu diungkap Kepolisian pada Februari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menegaskan, semua yang telah terjadi menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, tidak hanya Kepolisian. Mengantisipasi kejadian serupa, lebih baik daripada mengungkap kejadian serupa yang sudah terjadi. "Karena kasus-kasus seperti ini merusak masa depan generasi bangsa," ucapnya.
Tim konseling
Sementara itu terkait kasus pelecehan seksual ini, Polda Jawa Timur juga menerjunkan tim psikologi untuk melakukan penyembuhan trauma kepada 40 siswa yang menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh tersangka MSH (27), warga Surabaya, Jawa Timur.
"Jadi kami sudah terjunkan tim psikologi untuk melaksanakan konseling terhadap kasus pelecehan seksual yg dilakukan kepada beberapa siswa," ujarnya.
Sedikitnya ada 40 siswa yang sudah dilakukan konseling di lokasi sekolahan para korban. Maksud dan tujuan kegiatan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi psikologis korban saksi dan trauma healing.
Lihat juga:Jawa Timur Darurat Kekerasan Terhadap Anak |
Pemeriksaan dilakukan secara berkelanjutan mengingat jumlah korban mencapai 65 orang. "Bukan hanya korban, tapi para saksi dari orang tua dan guru juga kita mintai ketarangan," ucapnya. (eks/dik)