Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru pada Sabtu (24/2), total ada 12 hotspot atau titik panas di Pulau Sumatera berdasarkan citra Satelit Terra & Aqua yang diperbarui pukul 06.00 WIB. Riau mendominasi sepuluh titik panas, sedangkan sisanya terdeteksi di Provinsi Kepulauan Riau.
Titik panas di Riau paling banyak berada di Kabupaten Siak dengan jumlah enam titik, kemudian masing-masing ada dua titik di Pelalawan dan Indragiri Hilir. Jumlah "hotspot" pada hari ini naik signifikan, setelah pada Jumat (23/2) satelit mendeteksi Riau nihil titik panas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, pada pertemuan antara Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Pemprov Riau, Jumat (23/2) Kepala Sub Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Mitra Adhimukti, berharap BRG bisa mendanai riset-riset tepat guna untuk mempercanggih alat deteksi dini Karhutla.
Ia mengatakan pihaknya sudah pernah ditawari oleh beberapa perusahaan peranti pendeteksi yang terdiri dari tiga kamera pendeteksi. Alat itu sebenarnya sederhana, ada tiga kamera terdiri dari kamera infra merah, kamera pemantau panas, dan kamera biasa yang bisa berputar 360 derajat.
Ketika terdeteksi kebakaran dalam skala kecil sudah bisa diketahui titik koordinatnya dan keakuratannya untuk tim pemadam kebakaran bisa langsung ke lokasi kejadian. Namun, alat itu sangat mahal, sekitar Rp2,5 miliar sehingga sulit untuk dibiayai dari anggaran Pemprov Riau.
"Kita sih harapkannya ada Universitas Riau bisa mengembangkannya dan ini butuh dukungan dari pemerintah pusat, dan BRG karena ada anggaran yang besar di sana," katanya. (stu)