Datang bersama putrinya Kahiyang Ayu dan menantunya Bobby Nasution, Jokowi, pada Minggu (25/2) siang, menghebohkan seisi bioskop di mal Senayan City, Jakarta. Permintaan selfie terdengar signifikan.
Ia, yang mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana hitam, dan sepatu kets merah, menunjukkan tiga tiket film 'kekinian', Dilan 1990. Ya, ia hendak menonton film yang diangkat dari novel karya musikus Pidi Baiq.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan sikap Jokowi tersebut punya dua makna.
"Dia mencoba untuk menyelami apa yang sedang disukai generasi milenial," ucapnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (26/2).
Presiden Jokowi beserta anaknya, Kahiyang Ayu, dan menantunya Bobby Nasution, sebelum menonton film Dilan 1990 di salah satu mal di Jakarta, Minggu (25/2). (Foto: Biro Pers Setpres/Kris) |
Adi melanjutkan, Jokowi juga seakan ingin mematangkan konsistensinya peduli terhadap anak muda. Adi merujuk dari sikap Jokowi yang beberapa kali hadir dalam acara dengan pasar anak muda seperti konser musik. Misalnya, konser We The Fest 2017, di Kemayoran, Jakarta, Agustus 2017.
Kedua, lanjutnya, sikap Jokowi ini juga merupakan naluri politik yang tajam dalam menggarap potensi pemilih. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari langkah Jokowi yang bakal kembali menjadi calon presiden.
"Di saat yang bersamaan dia mendapat insentif elektoral, yaitu chemistry yang terbangun dengan pemilih pemula," jelasnya.
Menurut Adi, keputusan Jokowi untuk menonton Dilan merupakan upaya yang mujarab untuk menarik perhatian para pemilih pemula yang mencapai 30-35 persen total pemilih.
Para pemilih pemula justru akan lebih tertarik terhadap calon pemimimpin yang ikut menjadi bagian dari mereka secara langsung. Atas dasar asumsi itulah Adi menganggap Jokowi menempuh langkah yang tepat untuk menarik perhatian kalangan pemilih pemula.
"Dengan nonton Dilan, 'wih, Pak Jokowi kayak kita juga nih.' Keberbauran itu akan dilihat sebagai keberpihakan kepada anak muda" tutur Adi, menirukan pemikiran generasi muda.
"Ini adalah insting politik yang cukup tajam yang tidak pernah terpikirkan elit politik yang lain," lanjutnya.
Salah satu adegan dalam film Dilan 1990. (Foto: Dok- Falcon Pictures) |
Adi menjelaskan bahwa politik adalah bagaimana merebut persepsi dan bagaimana membangun opini. Jokowi, kata Adi, telah berhasil membangun persepsi dan opini anak-anak muda bahwa dirinya peduli dengan apa yang tengah disukai anak-anak muda.
"Sekarang kan sudah terbangun. 'Oh, ternyata Pak Jokowi juga suka dengan Dilan,'" ucap dia.
Meski begitu, Adi mengatakan bahwa kalangan muda tidak serta merta langsung menyukai Jokowi yang baru saja turut menonton Dilan. Menurutnya, Jokowi bakal kembali menempuh langkah-langkah serupa. Tentu dalam rangka
"Politik tidak bisa sekali sentuhan, tapi sebagai langkah awal, ini bagus," katanya.
Berdasarkan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang diserahka kepada KPU, pada akhir 2017, ada 196,5 juta orang yang dipastikan memiliki hak memilih dalam Pemilu 2019.
Dikutip dari rumahpemilu.com, pemilih pemula adalah mereka yang baru pertama kali memilih. Misalnya, kaum muda yang baru memiliki KTP dan pensiunan TNI.
Penelitian Dosen Universitas Muhammadiyah Malang Hevi Kurnia Hardini terhadap Pemilih Pemula menunjukkan bahwa mereka tidak menunjukkan antusiasme dalam menghadapi Pilkada.
Namun, imbuhnya, "Ada keinginan besar untuk merasakan pengalaman dengan menggunakan hak pilih, tercermin dari 70% responden menyatakan tetap memilih diantara calon yang ada kendati tidak ada pasangan calon yang sesuai dengan pilihan mereka."
Hevi memberi catatan bahwa pemilih pemula lebih menyukai hal-hal yang mudah dan sederhana untuk dimengerti. (arh/gil)
Presiden Jokowi beserta anaknya, Kahiyang Ayu, dan menantunya Bobby Nasution, sebelum menonton film Dilan 1990 di salah satu mal di Jakarta, Minggu (25/2). (
Salah satu adegan dalam film Dilan 1990. (