Tahun politik merujuk pada tahun 2018-2019 yang menghelat pemilihan kepala daerah serentak dan pemilihan legislatif serta presiden.
"Hanya memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan. Bisa saja menjadi ambisi-ambisi lain dengan segala cara. Karena ini kan menjelang Pemilu dan Pemilukada," kata Moeldoko di Makassar, Selasa (27/2)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menggunakan modus lama, namun modus tersebut didalangi oleh orang baru. Namun Moeldoko tidak menyebut nama orang baru yang ia maksudkan.
"Hanya yang perlu didalami, siapa yang dibelakangnya itu. Jadi sangat mudah dikenali tujuannya untuk apa, terus manfaat yang dia inginkan dan seterusnya. Dan sekarang kita mencari, siapa yang sebenarnya di belakangnya," jelasnya.
Untuk mengantisipasi itu semua, lanjutnya, pemerintah telah meningkatkan kerja Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang sebelumnya di bawah naungan Menko Polhukam kini berada langsung di bawah naungan Presiden RI.
Fenomena orang gila menyerang tokoh agama belakangan memang marak terjadi. Sejumlah kasus yang menonjol di antaranya penyerangan terhadap pimpinan Pesantren Al Hidayah, KH Umar Basri bin Sukrowi, di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat.
KH Umar Basri dianiaya seorang pria yang diduga mengalami gangguan jiwa di dalam masjid pada 27 Januari 2018.
Kemudian tokoh Persatuan Islam Indonesia (Persis), HR Prawoto. Ia meninggal dunia di rumah sakit setelah diduga dianiaya seseorang yang disebut mengalami gangguan jiwa pada awal Februari 2018.
Selanjutnya, penyerangan terjadi di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta pada 11 Februari 2018 lalu, yang melukai tokoh agama.
Terbaru, seorang kiai di Lamongan, Jawa Timur, diserang pria yang diduga mengalami gangguan kejiwaan.
Korban sempat menegur pria tersebut agar tidak makan di pendopo pesantren, namun pelaku justru menantang dan mendorong korban hingga jatuh. (wis/sur)