Salah satu tokoh nasional yang dilarang dalam alat peraga kampanye adalah Presiden Republik Indonesia pertama Sukarno.
PDIP, kata Andreas, merasa terganggu dengan larangan itu karena tidak berdasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, kata Andreas, jika tokoh nasional yang dilarang memiliki hubungan historis atau menjadi idola dari calon yang mengikuti kontestasi pilkada. Hal itu seharusnya sah saja ditampilkan.
"Tapi ini tokoh nasional yang mempunyai hubungan kesejarahan, saya kira ini sah-sah saja," katanya.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) melarang partai politik memasang wajah dan/atau nama presiden dan wakil presiden serta tokoh nasional yang bukan pengurus partai ke dalam alat peraga kampanye.
Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengatakan larangan itu mencegah terjadinya pelanggaran selama kampanye.
Larangan ini tertuang dalam Peraturan KPU (PKPU) Nomor 4 Tahun 2017 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota.
Peraturan tersebut tercantum pada Pasal 29 PKPU tentang desain dan materi bahan kampanye yang difasilitasi oleh KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP kabupaten/kota atau yang dicetak oleh pasangan calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat 1, ayat 2, dan ayat 3.
Aturan itu menjelaskan parpol dilarang mencantumkan foto atau nama Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dan/atau pihak lain yang tidak menjadi pengurus partai politik.