"Tidak memungkinkan [rumah tapak] karena harga tanah di DKI itu mahal sekali," ujar Agustino ketika dihubungi, Kamis (1/3).
Dengan demikian, dia melanjutkan, rumah DP nol rupiah program Pemprov DKI hanya mungkin berbentuk hunian vertikal. Hal itu sebagaimana yang tengah dirancang di Klapa Village Pondok Kelapa, Jakarta Timur yang peletakkan batu pertamanya dilakukan pada Januari 2018 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Rp350 juta landed houses (rumah tapak) itu bukan program FLPP. Tetapi, misalnya dia bilang Rp140 juta dimasukan FLPP, oke. Akan kita kerjasamakan," kata Agustino.
FLPP adalah pembiayaan perumahan dengan skema subsidi dari pemerintah, bekerjasama dengan bank nasional. Dalam skema tersebut, pemerintah pusat menempatkan sejumlah dana di bank untuk disalurkan dalam bentuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada masyarakat dengan bunga yang rendah.
Adapun Nusa Kirana mematok harga Rp350 juta per unit untuk tipe 27/45. Hal ini tak memenuhi syarat sebagaimana aturan untuk KPR dengan metode FLPP yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 425/KPTS/M/2015 tentang Batasan Harga Jual Rumah yang Dapat Diperoleh Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera.
Dihubungi terpisah, Government Relations PT Nusa Kirana, Dhiki Kurniawan memastikan akan tetap membangun proyek rumah DP nol rupiah meski tanpa bantuan FLPP.
"Kita akan nol kan. Karena program ini sudah kami gulirkan," ujarnya.
"Jelas secara margin kami kecil banget karena ini bagian dari CSR (Corporate Social Responsibility). Makanya, kami luncurkan program ini untuk DP nol di pemerintah, tapi tentunya ada bagian lain yang memang kami ada sisi komersilnya juga," tandas dia. (osc/arh)