"Tentunya ini dalam rangka silaturahmi, tidak ada materi yang sifatnya khusus karena pasti Presiden memahami bahwa Istana bukan untuk kegiatan bersifat politik praktis," ujar Pramono saat berada di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (3/3) seperti dilansir dari Antara.
Pramono menyampaikan hal tersebut menanggapi kritik dari sejumlah tokoh politik yang menyebut pertemuan itu akan menimbulkan kecurigaan pihak-pihak tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyalahgunaan kekuasaan itu. Abuse of power," kata dia, usai acara diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (3/3).
"Harusnya kan membahas bagaimana ini supaya Rupiah enggak ke Rp14 ribu, kemudian daya beli masyarakat. Itu lho. Kok yang dipikirin 2019 aja," cetusnya.
Sementara menurut Pramono, pertemuan antara presiden dengan pengurus partai politik adalah wajar, tentunya dengan batasan-batasan tertentu.
"Bahwa silaturahmi sebagai presiden tetap diperbolehkan," katanya.
Pramono juga mengapresiasi langkah anak muda yang memilih untuk terjun dalam suatu wadah partai politik.
"Sehingga perlu anak muda sekarang supaya yang baik-baik itu mau bergabung di partai politik, jangan yang gak baik saja. Kalau itu bisa dilakukan pasti dunia politik akan lebih baik," katanya.
Grace bersama Ketua DPP PSI Tsamara Amany berkunjung ke Istana Negara pada Kamis (1/3). Mereka mengaku membicarakan strategi memenangkan Pemilu 2019 bersama Jokowi.
Menurut penuturan Grace, dirinya lebih banyak mendengarkan masukan Jokowi mengenai target pemenangan Pemilu 2019.
"Pak Jokowi memberikan tips agar PSI bisa mencapai target menang Pemilu. Tipsnya rahasia, tapi ide beliau seru dan keren," kata Grace. (wis)