Hal itu disampaikan Kivlan saat merespon pertanyaan pewarta tentang kaitan PDIP dan PKI serta kemungkinan partai tersebut merupakan pecahan partai 'palu arit'.
"Enggak, PDIP (bukan pecahan PKI), tapi banyak menampung," kata Kivlan, usai diskusi dengan tema 'Isu Kebangkitan PKI: Antara Realita atau Propaganda' di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (6/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebaiknya PDIP itu menarik lah, orang-orang seperti Eva Kusuma Sundari, Rieke Dyah Pitaloka, Budiman Sudjatmiko, dia membuat buku itu, janganlah dimasukan jadi pimpinan lagi," tuturnya.
Lihat juga:Diskusi Soal Kebangkitan PKI Berakhir Ricuh |
"Jelas bukan hanya PDIP, tapi Golkar dan NasDem yang memberikan kadernya ke China.
Terlepas dari itu, Kivlan berdalih apa yang ia ungkapkan tersebut tidak berkaitan dengan kepentingan politik maupun pesanan dari partai lainnya. Menurutnya, apa yang ia sampaikan terkait PDIP dan PKI merupakan fakta, meski tak menyebut dari mana sumber fakta yang ia dapat tersebut.
"Saya tak memakai untuk kepentingan manapun, bukan ke Prabowo, tak ada hubungan dengan PKS dan PAN," ucap Kivlan.
Lihat juga:Presiden Jengkel Diterpa Isu PKI |
Hasto menyatakan sangat tidak mungkin kader PDIP menjadi kader PKI. Menurut dia, berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), kader PDIP akan dipecat bila kedapatan menjadi anggota partai lain, termasuk PKI.
"Di dalam AD/ART partai kami, kader yang memiliki keanggotaan partai lain saja dipecat, apalagi anggota PKI," kata Hasto saat bersaksi untuk terdakwa pencemaran nama baik lewat media sosial, Alfian Tanjung, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (7/2) lalu.
Meski begitu Hasto mengakui partainya pernah mengunjungi Partai Komunis China (PKC). Namun, kunjungan tersebut bukan dalam rangka menjalin kerja sama kaderisasi, melainkan untuk studi banding.
"Kami studi banding, jadi berbeda studi banding dengan kaderisasi. Studi banding kami adakan, kami adakan ke partai politik lain," kata Hasto. (osc/arh)