"Mungkin paling bisa diterapkan di Tangerang. Kota Tangerang itu menginterupsi lalu lintas dari arah Barat. Kemungkinan Tangerang yang bisa dilakukan," kata Budi di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (13/3).
Budi menjelaskan Kemenhub masih mengkaji dan menganalisa kebijakan ini untuk diterapkan di Jakarta-Tangerang. Namun dari segi letak daerah, kebijakan ganjil genap memungkinkan jika diterapkan di Tangerang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau lihat sif dari bentuk jalan dan kota, Tangerang yang paling mungkin diberlakukan seperti apa yang dilakukan di Bekasi. Kalau Depok dan Bogor tidak mungkin," katanya.
Meski demikian, kata Budi, kebijakan ganjil-genap di jalan tol Jakarta-Cikampek wilayah Bekasi merupakan bagian perbaikan pola transportasi di Jakarta.
"Sehinga kecepatan yang mestinya 70 km per jam, mereka hanya mampu 20 km per jam. Makanya di sana kita melakukan dengan tiga tindakan," katanya.
Penerapan kebijakan ganjil genap di Bekasi. (CNNIndonesia/Safir Makki) |
"Kami akan melakukan suatu treatment ataupun suatu bentuk policy tertentu sesuai dengan masalah-masalah di tempat itu," ujarnya.
Terpisah, anggota Komisi V DPR Alex Indra Lukman mengatakan kebijakan ganjil genap hanya merupakan solusi sementara waktu selama proses pembangunan di jalan tol Jakarta-Cikampek.
"Kalau hanya solusi sementara selama pembangunan oke, tapi kalau permanen mohon maaf harus berpikir ulang," ujar Alex.
Selain itu dengan label jalan bebas hambatan, kebijakan ganjil-genap juga dianggap tidak sesuai. Justru seharusnya, kata Alex, pengguna jalan tol dibebaskan dari biaya karena tidak bebas hambatan.
"Ketika masyarakat menggunakan dia sudah memenuhi kewajiban berkendara tapi terjadi diskriminasi perbedaan itu tidak fair. Kalau mau cari solusi permanen," ujarnya. (pmg)
Penerapan kebijakan ganjil genap di Bekasi. (CNNIndonesia/Safir Makki)