Hal itu disampaikan Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM Oce Madril kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/3).
Oce menilai pernyataan Wiranto itu cenderung mengada-ada. Wiranto semestinya tak menyampaikan permintaan itu karena dapat dianggap sebagai bentuk intervensi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Oce meminta KPK tak menanggapi imbauan Wiranto lebih lanjut. Ia mengatakan proses hukum di KPK harus tetap berjalan.
Terlebih, sesuai peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun UU Pilkada, calon kepala daerah yang terjerat kasus tetap dapat mengikuti pemilihan hingga perkaranya berkekuatan hukum tetap (incracht).
"Tentu tidak bisa kalau KPK disuruh menunda. Sepanjang ada alat bukti yang cukup, tidak bisa ditangguhkan begitu saja," ucapnya.
"Itu justru memberikan keuntungan tersendiri bagi pemilih," tuturnya.
Pada Senin (12/3) lalu, Wiranto menyampaikan agar proses penyelidikan maupun penyidikan calon kepala daerah dalam perkara korupsi di KPK ditunda hingga selesai pelaksanaan pilkada. Hal ini berawal dari pernyataan Ketua KPK Agus Rahardjo soal rencana mengumumkan calon kepala daerah sebagai tersangka korupsi pada pekan ini.
Selain itu, penetapan sebagai tersangka dinilai berisiko pada proses pencalonan karena yang bersangkutan mewakili partai politik atau para pemilihnya.
Namun purnawirawan jenderal TNI itu kemudian meralat pernyataannya dan menyebut bahwa permintaan itu hanya imbauan. Wiranto mempersilakan KPK untuk tetap memproses hukum calon kepala daerah yang terjerat perkara korupsi. (dal/wis)