"Itu sah, tapi pada akhirnya melalui proses seleksi politik. Begitu masuk [babak] perempat final tinggal empat orang, grand final tinggal dua orang, finalnya nanti pak Jokowi yang menentukan," ujarnya, di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (14/3).
Meski demikian, pihaknya meminta parpol pendukung Jokowi untuk tidak terlalu berharap mendapatkan posisi itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang kami sedang lakukan pengkajian mendalam terhadap semua calon itu," kata dia.
Soal nama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan, Basarah hanya tersenyum.
"Sekarang kami sedang melakukan pengkajian dengan beberapa partai politik figur cawapres yang muncul, kemudian kencenderungan kekuatan-kekuatan politik baik partai maupun ormas tapi kami masih kaji," katanya.
Terpisah, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengaku pasif dalam isu cawapres. Artinya, ia tak menginginkan posisi itu namun tetap menyerahkan keputusan itu kepada partai politik soal pencalonan itu.
"Saya katakan tidak ingin. Tidak inginnya itu tidak aktif, tetapi saya juga bukan tidak mau, karena kalau tak mau itu diartikan sombong. Pada akhirnya kita serahkan ke mekanisme dan itu ada di tangan capres dan partai-partai nanti," kata dia, di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (14/3).
Mahfud mengaku sudah ada komunikasi informal dengan koalisi partai pendukung Jokowi terkait hal tersebut.
"Kalau informal itu artinya sambil bicara atau saling lempar bola, tetapi saya selalu katakan saya pada pososi pasif ya, tak aktif juga," kata anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila itu.
(arh)