Partai Keadilan Sejahtera bahkan menyindir Demokrat sedang memainkan 'politik tiga kaki'. Sindiran itu merujuk pada sikap Demokrat yang dinilai masih berhitung apakah akan ikut ke koalisi Joko Widodo, koalisi Prabowo, atau justru membangun poros baru.
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Kurskridho Ambardi menilai Partai Demokrat akan mendekat ke poros Jokowi ketimbang membuat poros baru maupun poros Prabowo di Pilpres 2019 mendang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dodi, ada dua faktor yang akan membuat Demokrat mendekat ke poros Jokowi. Faktor pertama, daya tarik Jokowi yang masih tinggi untuk memenangkan Pilpres 2019 ketimbang tokoh yang lain.
Survei Populi Center (7-18 Februari 2018) mencatat elektabilitas Jokowi 52,8 persen dan Prabowo 15,4 persen.
Lihat juga:PKS Sindir Politik 'Tiga Kaki' Demokrat |
"Prospek elektoral kan Jokowi kansnya di atas angin, jadi Jokowi lebih besar, jadi bisa ke sana," kata dia.
Faktor kedua adalah Demokrat memiliki keuntungan untuk meraih panggung politik kembali di tingkat nasional pasca terpuruk di Pileg 2014 lalu jika Jokowi memenangkan Pilpres 2019 mendatang.
Presiden Jokowi saat bertemu dengan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Panggung politik itu akan mudah didapat jika Demokrat mendekat ke poros yang memiliki peluang menang lebih besar.
"Nah yang memberikan panggung ini adalah pemenang, nempel ke pemenang, itu loh logikanya, yang punya kans menang lebih tinggi itu jadi pertimbangan," kata Dodi.
Lihat juga:Ketum PAN: Poros Ketiga Butuh Keajaiban |
"Karena biasanya di Indonesia, tanpa panggung itu susah sekali untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas. Nah, panggung ini harus didapatkan Demokrat," kata Dodi.
Dongkrak Suara Jokowi
Dodi juga mengatakan bahwa faktor kekuasaan simbolik yang dimiliki SBY sebagai figur sentral di Partai Demokrat dipastikan akan mengangkat suara Jokowi di Pilpres 2019.
Modal semacam ini penting dimiliki dalam kontestasi politik semacam pilkada atau pilpres untuk meraih simpati masyarakat.
"Demokrat memiliki modal sosok SBY, jadi peluangnya bisa lah menarik masyarakat untuk dukung Jokowi," kata Dodi.
"Paling tidak separuh pengurus Demokrat itu akan mengikuti komando, di situ dia bisa mmebawa suara," ujar Dodi. (wis/gil)
Presiden Jokowi saat bertemu dengan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)