Hal ini dia ungkapkan merespons pernyataan Gubernur DKI Anies Baswedan yang mempersilakannya mundur sebagai Dirut PD Dharma Jaya.
Marina diangkat sebagai bos PD Dharma Jaya sejak 2015 lalu atau saat Gubernur DKI masih diemban Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pada awal tugasnya itu, dia mengaku menemui banyak kesulitan dalam perusahaan pelat merah tersebut. Salah satunya terkait tak adanya profesionalisme kerja di perusahaan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, kata Marina, untuk mengubah adat dan kebiasaan yang ada di perusahaannya itu perlu waktu hingga satu tahun.
"Mereka itu terbiasa dulu tidak kerja profesional, tidak terbiasa bahwa usaha itu harus, penting. Mereka itu terbiasa ya sudah kalau sudah ada anggaran ya dibuat anggaran baru dicatat, tapi kan bisnis itu kan harus ada anggaran," katanya.
"Itu kesulitan itu yang cukup berat, tahun pertama sampai tahun kedua," lanjutnya.
"Jadi bukan sekedar dagang, tapi pembenahan persoalan administrasi dengan karyawan. Kemudian juga soal pembenahan aset, aset kita banyak dikuasai sama org pihak ketiga, kami benahi," kata dia.
Marina kemarin mengaku telah mengajukan pengunduran diri secara langsung kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.
Terkait hal ini Anies Baswedan selaku Gubernur DKI pun meresponsnya. Anies juga menanggapi keinginan Marina itu dengan santai.
Gubernur hanya meminta Marina profesional menjalankan tugas dalam jabatannya saat ini. Karenanya dia mempersilakan Marina mundur jika memang menginginkan.
"Tidak ada orang yang tidak bisa diganti, orang yang irreplaceable (tidak tergantikan). Mundur boleh, engga mundur boleh, silahkan. Be profesional. Jangan seperti anak...," kata Anies tanpa melanjutkan lagi pernyataannya. (osc)