Sandi mengatakan, salah satu alasan ia beralih ke air PAM adalah kandungan air tanah di rumahnya yang selama ini ternyata mengandung bakteri Escherichia coli atau ecoli.
"Kemudian diperiksa, katanya septic tank-nya bocor ternyata. Waduh, kaget saya," kata Sandi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Katanya standar E coli di air harusnya cuma 3.000-an," ujar Sandi.
Sandi mengaku sebelumnya dia yakin dengan kualitas air tanah yang dipakai di rumahnya yang tergolong besar dan mewah serta dilengkapi dengan kolam renang itu.
"Belum lagi yang mandi. Sekarang ajudan saya saja lebih dari 20 orang, mereka mandi semua di sini. Banyak dong yang pakai airnya, air tanah lagi," kata Sandi.
Belajar dari kasus itu, dia mulai mengajak keluarganya untuk beralih ke air PAM. Namun, ia tidak gembor-gembor lebih dulu soal pencemaran septictank dan bakteri tersebut.
"Berangkat dari situ saya kaget juga, tapi saya diam-diam, terus saya bilang sama istri saya, 'non, kita mandi pake air limbah kita sendiri. Ini enggak sehat'," ia menceritakan ajakannya kepada sang istri, Nur Asia. "Kata istri saya, 'pantesan air kita di rumah ini bau'," ujar Sandi.
Lihat juga:Pakar Air: Jakarta Darurat Sumur Resapan |
"Kan kemarin waktu pake air tanah pemakaian air saya katanya nol, pas kemaren dua hari ini sudah buka keran PAM ternyata sampai 34 kubik sehari," kata Sandi. (arh/sur)