Wiranto mengatakan, sejumlah mutasi pejabat yang dilakukan menjelang pemungutan suara tersebut terindikasi terkait dengan kepentingan politik.
"Memang tadi enam bulan sebelum pelaksanaan pencoblosan memang harus berhenti," kata Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (27/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Resikonya bagi incumbent misalnya pada masa itu masih mutasi-mutasi, itu tentu ada resiko adminstrasi yang harus dia ambil, kan begitu kan," tutur Wiranto tanpa menjelaskan rinci resiko apa yang dia maksud.
"Segera kita instruksikan melaksanakan kegiatan pencairan dana itu," ujar Wiranto.
Waspadai Serangan Siber
Wiranto juga melihat permasalahan lain menjelang pelaksanaan hari pemungutan suara pada 27 Juni 2018 mendatang. Ia meminta para penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu agar mewaspadai serangan siber terhadap data-data yang dimiliki, khususnya menjelang pelaksanaan Pilkada serentak dan juga Pemilu 2019.
"Mewaspadai cyber attacks terhadap KPU dan Bawaslu," kata Wiranto.
Ilustrasi serangan siber. (Foto: cookelma) |
"Karena cyber attacks itu tidak bisa kami duga datanya ke mana aja," ujarnya.
Wiranto pun mengatakan, saat ini telah dilakukan berbagai upaya untuk bisa melindungi data-data milik KPU dan Bawaslu agar tidak disalahgunakan.
Selain itu, Wiranto menyampaikan perlu ada persiapan pengamanan di kantor KPU dan Bawaslu. Tujuannya untuk mengantisipasi pengerahan massa
Karenanya, ia meminta aparat keamanan untuk menurunkan personelnya guna mengamankan kantor-kantor para penyelenggara pemilu tersebut.
"Ini minta supaya diantisipasi dan kita akan meminta aparat keamanan," ucap Wiranto. (osc/wis)
Ilustrasi serangan siber. (Foto: cookelma)