Status ini didapatkan Rizieq tak lepas dari polarisasi atau keterbelahan politik di masyarakat, dan merebaknya isu kebangkitan politik umat Islam setelah Pilkada DKI Jakarta 2017.
Ditambah lagi, kata Zaki, rentetan peristiwa seperti penangkapan ulama dan pembubaran ormas Islam yang membuat Jokowi dilabeli sebagai pemimpin yang tidak pro terhadap umat muslim di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizieq yang sampai saat ini masih berada di Mekkah, Arab Saudi, memang kerap dikunjungi sejumlah. Imbauan Rizieq soal koalisi partai menghadapi Jokowi bahkan direspons cukup serius oleh sejumlah elite partai.
Jokowi beberapa kali menggunakan baju koko dan sarung hingga mengunjungi pesantren-pesantren dan kiai sepuh untuk membuat label sebagai pemimpin yang pro Islam.
Dari fenomena tersebut, Zaki menyebut suara Rizieq akan terus didengar dan akan memudar sendirinya jika kondisi masyarakat tak lagi terfragmentasi.
Zaki mengatakan kemunculan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi dan ulama kondang asal Riau Abdul Somad sebenarnya bisa menjadi figur untuk menyuarakan politik Islam yang tidak terlalu ekstrim. Namun kondisi polarisasi sudah kadung meruncing.
"Tapi kondisi polarisasi ini sudah terlalu runcing dan tidak akan bisa diantisipasi dalam waktu jangka pendek. Jadi harus kembali pada masyarakat dan politikus kita untuk bisa berpolitik secara proporsional," tutur Zaki. (wis)