"Alat tangkap mereka harus dibersihkan dulu, begitu juga kapal-kapalnya," kata Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Tanaman Pangan (DKPP) Balikpapan Yosmianto kepada wartawan di Balikpapan, kemarin, seperti dilansir Antara.
Kapal-kapal nelayan Balikpapan rata-rata berukuran 2-5 gross ton (GT) yang diawaki rata-rata oleh lima sampai tujuh orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk memenuhi kebutuhan pasokan ikan, untunglah masih ada nelayan dari pesisir timur, seperti Manggar dan Lamaru, juga masih bisa dipenuhi dari luar Balikpapan," tutur Yosmianto.
Pasokan ikan juga didatangkan dari luar Balikpapan, seperti dari Kabupaten Penajam Paser Utara dan Paser.
Tumpahan minyak di Perairan Balikpapan terjadi pada Sabtu (31/3) siang. Tumpahan itu secara tak terduga kemudian memicu kebakaran yang menghanguskan sebuah kapal kargo dan mengakibatkan dua korban tewas.
Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin mengatakan polisi masih melakukan investigasi asal-usul tumpahan minyak itu. Hal itu dilakukan buat mengetahui apakah minyak itu sengaja dibuang ke perairan Balikpapan oleh pihak tertentu atau tidak.
"Kalau dibuang itu kejahatan, nanti kami investigasi, kami akan cek Polda Kalimantan Timur. Itu mencemari biota laut, itu harus diinvestigasi siapa pelakunya," kata Syafruddin saat ditemui di Kantor Dewan Masjid Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (2/4). (wis/sur)