Hal ini disampaikan Ma'ruf usai menerima klarifikasi Sukmawati di kantor MUI, Kamis (5/4) terkait puisi soal azan dan cadar yang dibacakan saat gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) beberapa waktu lalu.
Ma'ruf mengatakan puisi itu sejatinya hanya pikiran seorang seniman atau budayawan yang bebas mengekspresikan pikiran tanpa memikirkan akibatnya ketika didengarkan pihak lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukmawati sendiri sama sekali enggan berkomentar terkait peristiwa tersebut. Ia hanya tersenyum sambil beberapa kali mencium tangan Ma'ruf sebagai bentuk permohonan maaf.
Di samping itu, Ma'ruf juga meminta agar pihak-pihak yang mengadukan Sukmawati ke polisi segera mencabut laporannya. Menurutnya, saat ini semua pihak harus mengedepankan dialog untuk menyelesaikan permasalahan.
Hal serupa, kata dia, juga dilakukan Presiden RI pertama Sukarno yang juga ayah Sukmawati. Cara ini diyakini efektif untuk menghentikan kegaduhan dan membangun keutuhan bangsa Indonesia.
"Kita ingin meniru para pendahulu bangsa ini agar perbedaan yang terjadi selesai dalam dialog-dialog," tutur Ma'ruf.
Sukmawati sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf. Ia menyatakan puisi itu sebenarnya sudah diterbitkan sejak 12 tahun lalu bersama sejumlah karya lainnya.
Dalam puisinya Sukmawati menyebut kidung lebih indah dari azan dan konde lebih indah dari cadar. (gil)