Hal itu disampaikan usai Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menggelar pertemuan dengan Ketua DPR Bambang Soesatyo di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (6/4).
Bambang menuturkan pemilihan kepala daerah oleh DPRD diwacanakan karena pemilihan langsung oleh masyarakat memiliki banyak permasalahan. Jika hal tersebut terus dilakukan, ia khawatir akan merusak masa depan bangsa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang menuturkan mekanisme Pilkada itu bukan hanya disoroti oleh DPR. Ia mengklaim sejumlah pihak, seperti mantan Ketua MK Mahfud MD hingga Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyarankan ada evaluasi terhadap pilkada langsung.
Lebih lanjut, politisi Golkar ini menyampaikan besarnya biaya kampanye dan biaya penyelenggaraan pilkada langsung menjadi dasar diwacanakannya pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Berdasarkan data Kemdagri, ia berkata biaya penyelenggaraan Pilkada langsung bisa mencapai Rp18 triliun.
"Kalau (Rp18 triliun) itu digunakan untuk biaya pembangunan lebih bermanfaat bagi masyarakat barangkali itu pilihan yang baik," ujarnya.
Lihat juga:DPS Bermasalah Pilkada Semarang |
"Kalau nanti hasil kesimpulan (evaluasi) pemerintah dan DPR melihat Pilkada langsung ini baik, benar dan bermanfaat bagi masyarakat dan baik bagi demokrasi kita ya kita lanjutkan," ujar Bambang.
Pada kesempatan yang sama, Tjahjo menyampaikan masyarakat sejatinya memiliki hak untuk memilih pimpinan daerah hingga Presiden. Namun hak itu tidak sejalan dengan praktik di lapangan bahwa Pilkada langsung sangat menguras biaya negara dan para calon kepala daerah.
Tingginya biaya politik itu kemudian berdampak pada tingginya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah. Korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah terpilih untuk mengembalikan modal kampanye yang tidak bisa ditutup lewat gaji kepala daerah yang hanya jutaan rupiah.
"Seorang mau ikut Pilkada habisnya kalau mau jujur puluhan miliar. Padahal tidak sesuai dengan apa yang didapat. Intinya ini masih dalam tahap diskusi," ujar Tjahjo.
Terkait tingginya kasus kepala daerah korupsi itu, Tjahjo menilai ada wacana untuk merombak sistem pemilihan langsung yang saat ini diterapkan. Namun, sejalan dengan Bambang, hal tersebut masih sebatas wacana yang perlu dikaji secara mendalam.
"Kami bagian mitra DPR mendengar aspirasi DPR. Mari kita bahas bersama. Kan masih tahap awal," ujarnya.