Puisi Gus Mus yang Dibaca Ganjar Penggerak Demo Era Soeharto

M Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 08/04/2018 20:25 WIB
Puisi Gus Mus yang Dibaca Ganjar Penggerak Demo Era Soeharto Puisi karangan Gus Mus yang dibacakan Ganjar Pranowo tercatat pernah menjadi inspirasi pergerakan dan demonstrasi terhadap pemerintahan Orde Baru era Soeharto. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puisi bertajuk Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana yang dibacakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menuai kontroversi. Puisi itu diketahui merupakan karya Mustofa Bisri alias Gus Mus pada tahun 1987.

Puisi karangan Gus Mus tersebut pada zaman Orde Baru kerap menjadi inspirasi pergerakan dan demonstrasi terhadap pemerintahan era Soeharto. Lirik dalam setiap bait puisi tersebut bertebaran dalam pamflet penggerak aksi demonstrasi.

Penulis Abu Asma Anshari melalui buku Ngetan-Ngulon ketemu Gus Mus mengategorikan puisi Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana sebagai salah satu karya Gus Mus yang paling fenomenal.


"Menjelang reformasi puisi itu banyak memberi inspirasi di kota-kota besar, yang tertuang dalam tulisan pamlfet-pamflet dan spanduk-spanduk rentang yang diusung mereka saat berdemonstrasi," tulis Anshari.

Lewat puisi itu Gus Mus mengkritik banyak hal dilematis bagi masyarakat menghadapi penguasa represif. Kala itu juga terjadi carut marut kehidupan sosial di masyarakat yang mulai serakah dan individualistis.


Bukan hanya penguasa, tulis Anshari, bahkan rakyat memiliki sifat serupa. Sifat tersebut adalah feodalistik, suka memerintah dan suka menekan.

Gus Mus yang lahir pada 1944 merupakan penyair sekaligus kolumnis yang dikenal di kalangan sastrawan. Tak jarang ia mengritik berbagai hal lewat karyanya, salah satunya adalah puisi Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana.

Gus Mus juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang. Ia juga salah satu pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Puisi Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana dibacakan oleh Ganjar saat diundang mengisi acara di salah satu televisi swasta. Puisi itu dibacakan dengan iringan lagu Lir Ilir yang dinyanyikan pasangannya, Taj Yasin.

Usai dibacakan, pusisi itu menuai kontroversi. Ganjar dinilai menistakan agama karena terdapat frasa berbunyi "Kau ini bagaimana? Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memangginya dengan pengeras suara setiap saat."


Isu SARA yang menerpa Ganjar ini pun menyebar ke media sosial dan menuai reaksi pro-kontra dari warganet Jawa Tengah.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak pernah berupaya menggunakan isu bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dalam menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada).

Hal tersebut diutarakan Hasto menanggapi calon Gubernur Jawa Tengah petahana Ganjar Pranowo yang diterpa isu SARA akibat membacakan puisi di salah satu stasiun televisi swasta.

"Kami tidak pernah menggunakan isu-isu berbau SARA untuk kepentingan politik," katanya di kantor DPP PDIP, Lentenga Agung, Jakarta, Minggu (8/4). (gil)