"Saya sudah menduga sejak awal, bahkan seingat saya lima bulan setelah tiba di Singapura saya mengatakan bahwa saya meyakini kasus ini tidak akan diungkap," ucap Novel usai menonton film berjudul 'Menolak Diam' yang disiarkan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (11/4).
Meskipun pesimis, Novel berharap kasusnya dapat terungkap. Hal ini sebagai pelajaran agar tidak terulang kejadian serupa baik pada dirinya maupun orang lain. Karena itu, ia berharap adanya perhatian serius dari Presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus teror yang menimpa Novel terjadi setahun lalu, tepatnya pada 11 April 2017. Saat itu, Novel yang sedang berjalan menuju rumahnya usai melaksanakan ibadah salat subuh di Masjid Jami Al Ihsan, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, diserang secara tiba-tiba oleh orang tak dikenal.
Pasca kejadian pagi hari itu, dukungan dari berbagai pihak terus mengalir agar kasus ini segera terungkap. Desakan untuk membuat tim gabungan pencari fakta pun disampaikan kepada para pimpinan KPK.
Setahun setelah kejadian, nyatanya upaya pengungkapan kasus Novel masih gelap. Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian memilih membentuk tim khusus gabungan dari tim Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri untuk pengungkapan kasus ini.
Hari berganti hari. Polisi menyebut 100 kamera pengawas alias CCTV sudah diperiksa. Pun demikian lebih dari 80 saksi dimintai keterangan. Sketsa wajah terduga pelaku pun sudah diterbitkan pada 24 November 2017 lalu.
Namun demikian, hingga hari ini perkembangan kasus ini belum juga ada kemajuan. "Apakah itu merupakan keengganan atau suatu kesengajaan atau tidak, saya tidak tahu?" kata Novel. (osc)