Muhammadiyah Klaim Kadernya Banyak Berafiliasi dengan Golkar

Ramadhan Rizky, CNN Indonesia | Kamis, 12/04/2018 23:05 WIB
Muhammadiyah Klaim Kadernya Banyak Berafiliasi dengan Golkar Jajaran pengurus pusat Golkar berpose bersama jajaran pengurus pusat Muhammadiyah, Jakarta, 12 April 2018. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengaku mayoritas kader organisasi massanya berafiliasi politik ke Partai Golkar. Abdul mengklaim itu ia utarakan berdasarkan data, meski ormasnya diidentikkan pula dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang dibangun mantan Ketum Muhammadiyah, Amien Rais.

"Walau ada kesan kami mayoritas PAN, tapi ada survei afiliasi warga Muhammadiyah sebenarnya aspirasi politiknya ke Golkar ya, seperti di Sulawesi, Maluku, Papua dan Jabar juga," kata Abdul setelah menjamu partai Golkar di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Kamis (12/4).


Abdul mengatakan afiliasi kepada Golkar itu sendiri tak lepas dari masa orde baru di mana seluruh pegawai negara harus berada di bawah partai berlambang pohon beringin tersebut.


"Kan dulu saat orde baru, Golkar melekat pada PNS, nah mayoritas warga Muhammadiyah itu pada era itu banyak ke Golkar. Dan, sampai saat ini masih," kata Abdul.

Walaupun tak memungkiri adanya afiliasi sebagian kader, Abdul menegaskan Muhammadiyah secara organisasi tak berpolitik praktis dengan mendukung partai-partai politik tertentu.

Rombongan Golkar yang datang ke markas Muhammadiyah siang tadi dipimpin ketua umum partai tersebut, Airlangga Hartarto. Dalam rombongannya tampak Sekjen Golkar Lodewijk Fredrich Paulus, Wakil Sekjen Golkar Ace Hasan Syadzily, dan Wakorbid Penggalangan Khusus DPP Rizal Malarangeng.

Sementara di unsur Muhammadiyah, selain sang Ketum pengurus pusat ormas tersebut, Haedar Nashir, tampak juga mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqqodas. Dalam struktur organisasi Muhammadiyah periode 2015-2020, Busyro pun masuk dalam jajaran ketua.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, pertemuan kedua tokoh tersebut berlangsung tertutup kurun waktu pukul 11.30 hingga 12.30 WIB.


Abdul menyatakan pembahasan dalam pertemuan itu sendiri adalah soal agenda kebangsaan dan memperkuat demokrasi. Abdul pun berharap agar Golkar dan parpol-parpol lainnya pun dapat memperkuat sistem demokrasi di Indonesia saat ini.

Hal itu, kata Abdul, karena pihaknya melihat situasi politik di Indonesia belakangan ini justru memicu masyarakat terbelah.

"Kami minta ini [demokrasi] diperkuat, termasuk kader-kader Muhammadiyah yang ada di Golkar juga, karena tak mungkin demokrasi akan kuat tanpa parpol yang kuat," ujar Abdul.

Sementara, usai pertemuan, Airlangga mengatakan, "Kami siap untuk memperkuat sistem demokrasi dan mendorong sumber daya manusia yang dimiliki Muhammadiyah. Insyaallah 2024 Indonesia sejahtera." (kid/kid)