Debat Perdana Pilgub Jateng, Saling Sikut Minim Gali Masalah

Tiara Sutari | CNN Indonesia
Sabtu, 21 Apr 2018 15:25 WIB
Diwarnai aksi saling sindir, permasalahan inti di Jawa Tengah dinilai kurang dieksplorasi oleh kedua paslon Ganjar-Yasin dan Sudirman-Ida di debat perdana. Debat pilgub perdana Jateng dinilai masih kurang mendalam soal persamalahan daerah. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi saling sindir mewarnai debat perdana pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Tengah (Jateng) 2018 yang digelar tadi malam.

"Oke nggak apa-apa, tidak ingat itu boleh tapi ngawur jangan," kata Ganjar Pranowo, calon gubernur Jawa Tengah nomor urut satu di panggung debat, Jumat (20/4).

Kalimat ini juga sekaligus sebagai sindiran yang disampaikan Ganjar untuk cagub nomor urut dua, Sudirman Said, rivalnya dalam kontestasi Pilgub Jateng di panggung debat.



Awalnya Ganjar memang 'diserang' oleh Sudirman terkait data kemiskinan yang disebut tak tercapai targetnya sepanjang Ganjar menjabat sebagai Gubernur. Sudirman menyampaikan ada 4,5 juta rakyat miskin di Jawa Tengah, dan 2,5 juta di antaranya termasuk dalam kategori sangat miskin.

Kemudian Ganjar pun mempertanyakan hitung-hitungan yang dilontarkan oleh mantan menteri ESDM itu. Namun dari gelagat Sudirman, Ganjar pun kemudian mafhum jika calon Gubernur usungan Gerindra ini tak terlalu mengingat dengan jelas asal-muasal hasil hitungan tersebut.

Baru kemudian kalimat sindirian itu pun keluar dari mulut Ganjar.


Lontaran 'saling sikut' dan 'saling serang' ini memang berulang kali terlihat dalam beberapa segmen debat perdana ini.

Tak hanya Ganjar yang 'menyerang' Sudirman, sebaliknya Sudirman juga sempat memiliki kesempatan untuk 'menampar' Ganjar. Misal terkait angka kemiskinan yang tak juga menurun selama periode Ganjar menjabat, hingga permasalah KTP Elektronik (e-KTP).

Meski beberapa kali saling serang, alur debat keduanya masih nampak sopan dan santun.


Pengamat Politik dari Universitas Diponegoro Teguh Yuwono menyebut, meski beberapa kali terlihat saling sikut namun keduanya masih bisa mengontrol emosi dan bersikap lebih santun. Bahkan kata Teguh setelah adu mulut keduanya masih sempat berangkulan.

"Memang beberapa kali sempat memanas, tapi tidak separah di Jatim. Panas tapi adem lagi ya kalau di Jateng, sangat menunjukan Jawa Tengah," kata Teguh kepada CNNIndonesia.com, Jumat malam (20/4).

Sayangnya kata Teguh debat kali ini dia anggap kurang mengeksplore fakta permasalahan yang ada di Jawa Tengah. Sepanjang kurang lebih dua jam berdebat, keduanya hanya membahas soal kemiskinan dan angka yang sebenarnya dikatakan Teguh juga kurang menyeluruh.

"Sayangnya sangat tidak mengeksplorasi masalah Jawa Tengah sepenuhnya. Ini kan isunya soal kesejahteraan. Padahal banyak yang bisa digali," kata dia.


Teguh memisalkan kedua paslon bisa digiring untuk mendebatkan soal pembangunan infrastruktur, dan tata kelola pemerintahan yang memang sedang menjadi isu utama permasalahan di Jawa Tengah.

Tetapi, alih-alih membicarakan soal infrastruktur, salah satu pasangan calon justru malah melempar isu terkait e-KTP yang diduga hanya untuk mencari celah menyerang Ganjar yang memang sempat disebut-sebut terlibat dalam mega korupsi proyek yang menyeret banyak wakil rakyat itu.

"Padahal bisa membicarakan hal-hal yang lebih Jawa Tengah, masalah infrastruktur, pembangunan sarana prasarana saya kira akan lebih memantik masyarakat untuk tahu lebih jauh calon pemimpin mereka," kata dia.


Jadi kata Teguh, selama kurang lebih dua jam keduanya hanya debat kusir tanpa tujuan nyata selain saling sikut dan menjatuhkan. Begitu pula dengan calon wakil gubernur kedua pasangan, yakni Taj Yasin dan Ida Fauziah.

"Hal yang sama juga berlaku untuk calon wakil mereka yah," kata dia.

Tak Ada Yang Menonjol

Tidak adanya eksplorasi permasalahan nyata dalam debat perdana Pilgub Jateng ini menyebabkan tak ada satu pun Paslon yang benar-benar unggul dalam kontes tersebut.

Bahkan kata Teguh, keduanya sama-sama terjebak dalam mode 'ingin elektablitas naik dengan menjatuhkan pasangan lain'. Padahal tanpa itu, dengan menonjolkan kemampuan diri misalnya, salah satu pasangan ini akan lebih unggul dari pasangan lainnya.

"Tidak ada (yang menonjol) saya rasa keduanya sama, kalau pun terlihat lebih tahu misalnya Ganjar, tapi dia juga tidak cukup memberi tahu," kata Teguh.


Memang diakui Teguh pasangan calon satu dengan yang lainnya sempat memimpin untuk hal-hal tertentu. Namun, tak ada yang benar-benar menonjol.

"Ganjar leading untuk tertentu, Gus Yasin leading di hal tertentu, Sudirman juga leading di hal tertentu, begitu juga Ida, leading di hal tertentu, tapi hanya sebatas itu," katanya.

Hal sama juga diungkapkan pengamat politik LIPI Wasisto Raharjo Jati. Menurut dia debat kali ini tak menunjukan keunggulan dari satu paslon pun.

"Nggak ada yah, engga ada yang benar-benar unggul," katanya.


Dia juga menyayangkan pola komunikasi yang dilakukan kedua pasangan calon. Sudirman dan Ida diakui Wasisto tak mengeksplore permasalahan intim di Jateng yang bisa dia keluarkan untuk menyerang Ganjar. Mengingat sebagai petahana tentu Ganjar punya celah-celah tertentu yang bisa digunkan lawan sebagai bentuk penyerangan.

"Hanya ada satu, padahal bisa dia (Sudirman-Ida) lebih dieksplorasi lagi," katanya.

Sudirman kata Wasisto malah nyaman menggunakan pola komunikasi yang advokatif alih-alih eksploratif.

"Ya sepanjang durasi tadi hanya advokatif saja," kata dia.

(DAL/DAL)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER