Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengklaim tak pernah menyebarkan foto pertemuan tersebut, sebab saat melakukan pertemuan semua handphone disita oleh pihak istana. Mereka mendesak pihak istana mengusut tuntas bocornya foto pertemuan tersebut.
Ketua Tim 11 Alumni 212 Misbahul Anam menduga foto itu tersebar karena ada keterlibatan pihak istana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengibaratkan bahwa dunia sekarang ini seperti rumah kaca, di mana semua orang bisa tahu segala macam hal. Baginya, pertemuan semacam itu harusnya tak perlu lagi ditutupi.
Sekretaris Tim 11 Alumni 212 Muhammad Al Khaththath, Jakarta, 2017. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
Terpisah, pengamat politik Bawono Kumoro menilai ada kepentingan tersendiri yang dimiliki oleh Alumni 212 sehingga tidak menginginkan pertemuan tersebut diketahui publik.
"Ada kepentingan yang coba diseimbangkan oleh kelompok 212," kata dia.
Kepentingan pertama adalah menjaga kepentingan kelompok umat Islam umat Islam yang selama ini menjadi basis kekuatan kelompok tersebut.
Kepentingan kedua, kepentingan politik. Terungkapnya pertemuan itu potensial mengganggu basis massa umat Islam yang selama ini dimiliki dan relasi dengan partai politik yang menjadi oposisi pemerintah.
Kepentingan ketiga, kepentingan menjaga citra. Sebab, ada kekhawatiran pertemuan tersebut akan membuat Alumni 212 dicap sebagai kelompok yang mencoba mendapatkan kekuasaan.
Kekhawatiran tersebut, kata Bawono terbukti dengan reaksi cepat yang dilakukan oleh Alumni 212 dengan menggelar konferensi pers untuk memberikan penjelasan tentang pertemuan dengan Jokowi.
Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego menyebut pertemuan antara Alumni 212 dengan Jokowi sebagi tanda kemenangan Jokowi dalam mengendalikan pihak oposisi. Pasalnya, selama ini Alumni 212 memang santer bersuara dan memberikan kritik terhadap Jokowi.
"Ya jadi saya kira kemenangan Jokowi untuk mengendalikan oposisi," ujarnya.
Tim 11 Ulama Alumni 212, di Jakarta, Rabu (25/4). (CNN Indonesia/Mesha Mediani) |
"Plin plan karena 212 kan memang keras terhadap Jokowi, sikap yang tidak mau kompromi, tapi ternyata kooperatif juga," kata Indria.
Jalan Panjang Dukungan
Namun demikian, Bawono menilai pertemuan itu belum bisa dijadikan indikasi Alumni 212 akan beralih memberikan dukungan pada Jokowi. Sebab, pertemuan tersebut baru merupakan pertemuan awal.
Menurutnya, masih ada proses panjang jika memang akhirnya Alumni 212 akan mendukung Jokowi, terutama dalam kaitannya membahas konsesus atau kesepakatan antara kedua belah pihak.
"Misalnya, Habis Rizieq dipulangkan tanpa perlu diusut kasus hukumnya yang coba ditawarkan Jokowi, atau mungkin konsensus lainnya ya sudah tidak ada lagi kriminalisasi ulama, dan sebagainya, 212 bisa memberikan apa ke Jokowi," ujar Bawono.
Bawono mengatakan proses kesepakatan antara Alumni 212 dengan Jokowi tak jauh berbeda seperti sebuah partai politik yang mencoba mendekati calon presiden yang berpotensi memenangkan Pilpres.
"Jokowi mencoba mencari cara mengamankan agar jalan menuju tahun 2019 tidak terlalu berombak besar," tandasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Tim 11 Ulama Alumni 212 Muhammad Al Khaththath menyatakan pertemuan tersebut tidak membahas soal dukungan kepada Jokowi di Pilpres 2019.
"Tidak ada persepsi kami mendukung. Tidak ada deal dan dukung-mendukung," kata dia. (arh)
Sekretaris Tim 11 Alumni 212 Muhammad Al Khaththath, Jakarta, 2017. (
Tim 11 Ulama Alumni 212, di Jakarta, Rabu (25/4). (