Pesan Rizieq itu disampaikan melalui Ketua GNPF Ulama Yusuf Muhammad Martak. Yusuf ikut bertemu Jokowi di Istana Bogor pada Minggu (22/4).
"Saya restui mereka karena saya punya prinsip bahwa dialog dan musyawarah harus dikedepankan sebagai bagian dari dakwah," kata Rizieq sebagaimana dituturkan Yusuf, Kamis (26/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuf mengklaim Rizieq selalu menghargai upaya dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, termasuk perihal dugaan kriminalisasi ulama.
Rizieq menduga selama ini Jokowi mendapat informasi yang salah dari bawahannya terkait kasus yang menimpanya. Oleh karena itu, mesti ada perwakilan Alumni 212 yang menyampaikan informasi yang valid kepada Jokowi secara langsung.
"Saya restui mereka karena saya paham bahwa kunci untuk menghentikan politik kriminalisasi ulama dan aktivis 212 yang terjadi selama ini ada di tangan presiden," katanya.
Mereka menamakan diri sebagai Tim 11 Ulama Alumni 212. "Agar lebih jelas yang berjumpa Presiden hanya enam orang bukan sebelas orang," tutur Yusuf.
Sementara itu, Jokowi mengatakan pertemuan tersebut sebagai bentuk silaturahmi biasa. Dia tak menyebutkan bahwa dalam pertemuan itu juga disinggung kasus dugaan kriminalisasi ulama.
"Semangatnya menjalin tali silaturahmi dengan para ulama, habib, kiai, ustad dari seluruh provinsi yang ada di tanah air," kata dia, di Tanjung Priok, Rabu (25/4).