Menurutnya, perbedaan pilihan politik tidak boleh mengganggu persaudaraan sesama anak bangsa.
"Kita juga boleh berbeda pilihan presiden mungkin dua atau lebih, tapi itu tidak harus kemudian menggunakan cara-cara yang intimidatif, tidak harus juga menggunakan cara-cara provokatif," kata Romi sapaan karibnya, di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (30/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Romi pun mengimbau agar pemimpin partai politik maupun tokoh agama ikut memberi imbauan kepada masyarakat untuk menahan diri dari tindakan provokatif maupun intimidatif.
"Karena pertarungan (di media sosial) hanya di antara para buzzer dan pendukung yang sama sekali tidak signifikan di dalam politik nasional," ujarnya.
Untuk itu, ke depan dia meminta agar penanggungjawab penyelenggara car free day tidak kembali membiarkan kegiatan politik praktis berlangsung.
"Kalau kemarin ada keterlibatan penanggung jawab CFD secara sengaja membiarkan itu terjadi, ini harus diusut tapi kalau kemarin bentuk kecerobohan jangan diulang ke depan dan memang tidak semestinya CFD digunakan [untuk] kegiatan politik," katanya.
Susi yang datang didampingi Ketua Cyber Indonesia, Muannas Alaidid itu menjelaskan peristiwa yang terjadi kepada dia dan anaknya saat Car Free Day (CFD) di Bundaran HI Jakarta, Minggu (30/4).
Saat itu, Susi mengklaim dirinya bersama sekitar tiga ribu orang lainnya datang ke kawasan Monas dengan menggunakan kaos putih bertuliskan #DiaSibukKerja.
Susi mengklaim kegiatan itu merupakan rencana jalan sehat yang sudah diatur sebelum CFD dilakukan. Susi sendiri baru mendapatkan pakaian dengan tulisan #DiaSibukKerja pagi hari di mana dia tiba di titik kumpul bersama teman-temannya. (eks)