Padahal, calon partai koalisinya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), telah menyodorkan sembilan nama cawapres untuk Prabowo. Namun, Prabowo dan partainya bergeming dan beralasan masih melakukan tahapan penilaian.
Tak tinggal diam nasibnya digantung, PKS memberi tenggat waktu kepada Prabowo untuk memutuskan nasib sembilan nama itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai tenggat waktu tersebut adalah bukti ketergantungan Partai Gerindra terhadap PKS. Adi mengatakan hal itu menunjukan bahwa Prabowo tidak mungkin maju sendirian di pilpres 2019 mendatang.
Tenggat waktu ini, kata Adi, juga menunjukan posisi PKS yang berada di atas angin. Daya tawar PKS sangat tinggi karena PKS menjadi penentu keikutsertaan Prabowo di pilpres.
Prabowo Subianto saat diberi dukungan oleh KSPI dalam peringatan May Day, di Istana Olahraga (Istora) Senayan, Jakarta, Selasa (1/5). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Itu salah satu bentuk bargain dan itu tidak main-main kalau sudah ngasih deadline begitu. Dia (Partai Gerindra) sangat tergantung apakah PKS mendukung dia atau tidak," kata Adi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/5).
Menurutnya PKS sangat mungkin berpaling apabila Prabowo dan Partai Gerindra tak kunjung menentukan cawapres dari sembilan nama yang disodorkan.
Hal itu, kata dia, terlihat dari langkah-langkah yang dilakukan Sohibul iman. Misalnya beberapa waktu lalu Sohibul sempat berkomunikasi dengan Partai Demokrat.
Bahkan, Sohibul akan bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono untuk serius membicarakan kemungkinan terbentuknya poros ketiga. Pihak Demokrat juga dianggap serius untuk menggandeng PKS dan membentuk poros ketiga itu.
Tenggat waktu ini juga menunjukan seakan Partai Gerindra yang tersandera oleh PKS. Adi mengatakan hal ini karena PKS merupakan sekutu yang luar biasa bagi Partai Gerindra.
Menurutnya hanya PKS yang sampai saat ini setia menemani Partai Gerindra berada di pihak oposisi sementara partai-partai lainnya sudah 'lompat pagar' menyebrang ke kubu lain.
"Selama ini yang menjadi teman sekutu yang memberikan karpet merah ya PKS. Artinya PKS sebagai partner koalisi ini cukup loyal. Mencari teman sekutu seloyal PKS ini hampir tidak ada," terang dia.
Senada, pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai PKS saat ini tengah berada di atas angin. Selain karena ketergantungan Partai Gerindra, PKS lebih leluasa pergerakan politiknya.
Mantan presiden PKS Anis Matta di acara Mukernas KAMMI, Jakarta, Minggu (3/2). (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon) |
Sementara, pergerakan politik Partai Gerindra cukup terbatas karena sudah mengusung Prabowo sebagai calon presiden. Selain PKS, menurut Hendri, partai lain belum tentu mau untuk merapat dan membentuk koalisi dengan Partai Gerindra.
"Belum tentu juga ada yang mau sama mereka (Partai Gerindra), sementara PKS ini gerakannya lebih leluasa karena tidak mencalonkan presiden, mereka bisa gabung ke poros ketiga atau gabung ke kubu Jokowi (Presiden Joko Widodo)," terangnya.
9 Pentolan PKS
Majelis Syuro PKS diketahui telah menyiapkan sembilan nama kader internal sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.
Mereka adalah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan; Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid; eks Presiden PKS M. Anis Matta; Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.
Selain itu, ada nama Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman; Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufrie; Anggota DPR Tifatul Sembiring; Anggota DPR Al Muzammil Yusuf MS dan Anggota DPR Mardani Ali Sera.
Dari survei yang dilakukan PKS secara internal, kata Adi, muncul tiga nama dengan elektabilitas paling tinggi yakni Ahmad Heryawan, disusul Hidayat Nur Wahid, dan Anis Matta.
Anis Matta, kata Adi, adalah sosok muda dan memiliki kemampuan retorika yang baik. Selain itu namanya juga sudah dikenal dan cukup vokal dibanding dengan beberapa calon lain. Hanya saja, Anis belum pernah menduduki posisi strategis, baik itu di pemerintah pusat maupun daerah.
Selain itu, Adi menyebut, Anis secara internal PKS tidak diterima di semua golongan. Diketahui PKS tengah terbagi dua golongan yakni golongan Sohibul Iman dan Anis Matta. Menurut Adi, Anis hanya bisa mewakili satu golongan saja di PKS.
Setelah Anis ada nama Hidayat Nur Wahid yang menempati posisi kedua dari segi elektabilitas. Menurut Adi Hidayat adalah sosok yang cukup senior di kancah perpolitikan Indonesia.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, di Graha Pos Bandung, Jawa Barat, Senin (27/3). (ANTARA FOTO/Agus Bebeng) |
Pengalamannya sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi salah sata keunggulan dia. Namun, sosoknya yang senior itu pun menjadi kelemahan untuknya.
Selanjutnya adalah nama Ahmad Heryawan atau Aher. Menurut Adi Aher adalah nama yang paling realistis untuk dipilih Prabowo sebagai cawapresnya.
Pengalamannya sebagai Gubernur Jabar selama dua periode menjadi salah satu kelebihan Aher. Secara internal Aher juga cenderung lebih diterima di semua golongan di tubuh PKS.
"Aher itu prestasinya banyak, penghargaan banyak dan menjadi gubernur di wilayah yang penduduknya paling banyak di Indonesia, 34 juta penduduk," kata dia.
Hanya saja, menurut Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun nama Aher yang pernah terseret di kasus penyaluran kredit Bank Jabar Banten (BJB) menjadi salah satu kelemahannya.
"Aher punya potensi ada serangan meski belum tentu kebenarannya. Kan yang dicari untuk jadi cawapres itu adalah pribadi yang minimalis untuk jadi objek serangan politik dari lawan politiknya," terangnya. (arh/gil)
Prabowo Subianto saat diberi dukungan oleh KSPI dalam peringatan May Day, di Istana Olahraga (Istora) Senayan, Jakarta, Selasa (1/5). (
Mantan presiden PKS Anis Matta di acara Mukernas KAMMI, Jakarta, Minggu (3/2). (
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, di Graha Pos Bandung, Jawa Barat, Senin (27/3). (