Rinciannya, sebanyak 14,8 persen menyatakan sangat puas dan 56,5 persen merasa cukup puas. Sedangkan 25,4 persen merasa kurang puas dan yang merasa tidak puas sama sekali sebanyak 1,9 persen. Sementara itu, sebanyak 1,5 persen tidak menjawab.
"Jadi secara keseluruhan (yang merasa sangat puas dan cukup puas atas kinerja) Pak Jokowi 71,3 persen. kalau yang tidak puas 27,3 persen," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei di kantor Indikator, Cikini, Jakarta, Kamis (3/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi 73 persen yakin akan kemampuan Jokowi. Pernah di bulan Juni 2015 keyakinan terhadap Jokowi drop (merosot), tapi setelah itu tingkat keyakinan publik meningkat," kata Burhanuddin.
Responden terbelah soal isu agama dalam politik. Survei LSI Denny JA mencatat 40,7 persen atau mayoritas responden menyatakan tidak setuju ada pemisahan politik dengan agama.
Di kubu lainnya, terdapat 32,5 persen menilai agama dan politik harus dipisahkan.
"Artinya kita lihat bahwa Jokowi belum terlihat ramah dalam isu agama dan politik. Ini akan mengancam secara elektoral," ujar Peneliti LSI Adjie Alfaraby pada jumpa pers di Jakarta, Jumat (2/1).
Lebih dari setengah responden menyatakan harga kebutuhan pokok meningkat dan memberatkan, lapangan kerja sulit didapatkan, serta jumlah pengangguran semakin meningkat.
Di sisi lain, responden menyatakan kekhawatiran akan isu masuknya tenaga kerja asing, terutama dari China.
"Jika ketiga isu dikelola dengan baik, maka Jokowi akan semakin kuat dan sulit ditandingi. Namun kalau tidak, akan melemahkan Jokowi dan menguatkan capres lain," imbuhnya.
Hasil survei LSI tersebut diambil dari 1.200 responden yang menjadi sampel dan diwawancara tatap muka menggunakan kuesioner pada 7-14 Januari 2018.
LSI menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9 persen. (wis)