Menurut Yusril, merujuk pasal 7 UUD 1945 jelas menyatakan bahwa presiden dan wakil presiden hanya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan.
"Pasal 7 UUD '45 itu harafiah bunyinya sudah seperti itu," kata Yusril ditemui di sela acara Mukernas Partai Bulan Bintang (PBB) yang dlaksakan di Hotel Peninsula, Jakarta, (4/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya tidak (bisa menafsir UUD), tugas MK itu menguji UU. Nanti di situ (dikaji) apakah UU bertentangan dengan konstitusi atau tidak," kata Yusril.
"Memang agak berat, karena yang diuji bukan hanya UU karena harus menguji UUD dan tidak ada mekanisme untuk menguji UUD," kata Ketua Umum PBB tersebut.
Sebelumnya, ketentuan tentang masa jabatan presiden dan wakil presiden digugat oleh Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa dan Perkumpulan Rakyat Proletar.
Mereka menggugat pasal 169 huruf n dan pasal 227 huruf i yang mengatur syarat presiden dan wakil presiden yakni belum pernah menjabat sebagai Presiden atau Wakil Presiden selama 2 (dua) kali masa jabatan yang sama.
Menanggapi gugatan itu, Juru bicara MK Fajar Laksono juga menegaskan bahwa JK tak bisa lagi mencalonkan diri sebagai wapres pada Pemilu 2019. Fajar mengatakan, pasal 7 UUD 1945 telah mengatur bahwa presiden dan wapres dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. Kemudian, ketentuan itu diperkuat dengan pasal 169 huruf n UU Pemilu.
"Jadi enggak ada lagi perdebatan (menjabat) berturut-turut atau tidak. Kalau diatur berturut-turut pasti dibunyikan di situ (UU Pemilu). Sudah klir sebetulnya," ucap Fajar. (eks)